pagi ini sambil menunggu azan subuh, aku terbaring menatap langit-langit kamarku. pikiranku pun melayang entah kemana. tiba-tiba aku ingat dulu sewaktu ayah masih ada disini. dulu setiap pagi ketika aku masih sekolah aku selalu berangkat sekolah sama ayah. ketika jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi ayah selalu menyuh aku dan adik-adikku untuk lebih cepat agar tidak terlambat. ayah masuk kantor jam 8 pagi dan tidak mau terlambat..
kebiasaan itu pun berlanjut hingga aku kuliah. disaat teman-temanku berangkat dengan kendaraan pribadinya, aku tetap diantar oleh ayah. maklum, jangankan kendaraan roda empat, hingga kini kendaraan roda dua pun aku tak punya.
dengan menggunakan mobil ber plat merah ayah mengantar aku dan adik-adikku ke sekolah setiap pagi. namun karena jarak kampusku paling jauh dari rumah dan dari kantor, ayah menurunkanku di halte labi-labi (angkot), kemudian aku meneruskan perjalanan dengan labi-labi hingga sampai ke depan kampusku, Fakultas Kedokteran tercinta. begitu terus setiap pagi.
kemudian, jika aku pulang kuliah sekitar jam 12 atau jam 1, aku selalu telpon ayah. aku selalu menanyakan ayah sedang dimana? siang ini pulang atau tidak? kalau pulang, aku menunggu di halte depan rumah sakit umum. begitu setiap hari.
dengan menggunakan labi-labi atau damri aku berangkat dari kampus dan turun di halte yang ada di depan rumah sakit. biasanya sebelum aku tiba di halte aku akan menelepon ayah untuk mengabarkan bahwa aku sudah dekat sehingga ayah bisa langsung berangkat dari kantornya yang letaknya tidak terlalu jauh dari RSU ZA. biasanya ketika aku turun di depan halte, ayah sudah ada di sana, atau aku harus menunggu sebentar hingga mobil dinas ayah datang. setelah itu kami akan melanjutkan perjalanan ke daerah pocut baren untuk menjemput adikku yang bersekolah disana. kemudian kami pulang dan menikmati santapan lezat yang dimasak oleh mama dengan penuh cinta. begitu terus setiap hari.
***
satu hal yang sangat aku rindukan saat ini adalah berada di mobil yang sama dengan ayah. duduk di sebelah ayah, mendengarkan siaran berita pagi via radio, menciumi tangan ayah sembari mengucapkan salam dan turun dari mobil. memang hal yang sangat sederhana, tapi ngangenin.
setiap aku berada di dalam mobil bersama ayah, aku selalu memperhatikan tangan ayah, terutama saat ayah mengganti gigi mobil dan ketika memegang stir. tangan ayahku terlihat kurus, dengan tulang-tulangnya dan urat-urat di punggung tangannya yang terlihat menonjol. ayah terlihat mulai tua dan lelah, tapi ayah tidak pernah mengeluh.. :(
***
kemudian memoriku berputar kembali pada sore itu, 8 November 2011. hari idul adha yang ketiga. suatu hari yang tidak akan pernah aku lupa. tanggal yang menjadi turning point bagi kehidupan keluarga kami. saat itu dengan segala keagungannya, sang Maha Pencipta memanggil ayahku. Ya, Ia memanggil ayahku kembali pada-Nya, untuk selamanya. aku lihat tubuh ayahku terbujur kaku. pucat. namun wajahnya tenang sekali, seperti sedang tidur. aku tak bisa melupakan wajah ayah saat itu. kulihat tangannya. kaku, tidak seperti biasanya.
disaat yang lain sedang bersuka cita, bergembira, suara takbir bergema di microphone mesjid, aku dan adikku sedang membaca yasin di sebelah jasad ayahku. aku tak bisa jelaskan bagaimana perasaanku saat itu. hancur.
disaat para jamaah haji lainnya sedang melaksanakan ibadah, ternyata Allah punya kehendak lain. padahal ayah sudah menunggu sekian lama untuk bisa berangkat haji berdua bersama mama. ayah menabung sedikit demi sedikit. setelah mencukupi, ayah mendaftar haji bersama mama. dan padahal saat itu masa tunggu keberangkatannya hanya sekitar 2-3 tahun lagi. tapi ternyata Allah berkehendak lain. tapi setidaknya Allah tau niat dan usaha Ayah untuk dapat menjadi tamu Allah.. :(
aku tak dapat menahan tangisanku ketika melihat jasad ayahku dimasukkan ke dalam tanah. sulit bagiku mendeskripsikan bagaimana perasaanku saat itu. rasanya seperti ada gemuruh di sini. di dalam dada ini. sakit sekali rasanya membayangkan bahwa beliau kini ada di sana, tidak bersama kami lagi.
ketika kami kembali ke rumah, rasanya seperti kosong, hampa. setiap sudut rumah mengingatkan kenangan tentang beliau. rasanya seperti baru kemarin ia duduk di kursi itu, berjalan ke arah dapur, menonton tv bersama disini.. tapi sekarang...........
***
kemudian suara azan menyadarkan aku dari lamunanku. segera aku berwudhu dan menghadap sang khalik. selalu ada tangis di dalam doa ku untuk Ayah. begitupun saat sedang menulis postingan ini. rasanya ada kepiluan yang mendalam dan rindu yang tak berujung untuk Ayah. dan ketika rindu itu datang, aku harus cukup puas dengan mendoakannya, berkomunikasi dengan sang penguasa alam dan dengan bulir-bulir air mata yang tak akan pernah kering untuknya, walaupun hasrat hati sebenarnya ingin memeluknya secara langsung.. :(
***
setiap kali aku naik angkot dan melewati deretan bangku yang ada di sana. batinku selalu berkata "dulu biasanya aku ada di sana, menunggu ayah.."
kini, setiap kali aku melewati halte, aku tidak lagi memencet bel untuk turun. tiada lagi yang aku tunggu di halte itu. angkot terus berjalan. dan perjalanan ini takkan sama lagi...
ah, ayah, mengapa terlalu cepat engkau pergi? walaupun hingga kini aku hanya bisa naik angkot, tapi aku pernah berniat jika aku sukses nanti aku mau beli mobil untuk ayah.. aku ingin ayah lihat hasil perjuanganku, aku ingin ayah juga menikmatinya.. aku ingin ayah bangga karena memilikiku..
dari anakmu yang dulu selalu menunggumu di halte itu,
Silfana Amalia Nasri binti Fadhli Nasri.. :)
Senin, 25 Juni 2012
Kamis, 14 Juni 2012
Jika Aku Menikah Nanti
jika aku menikah nanti... aku ingin menikah di usia 23, 24, atau 25 tahun dan dengan seorang pria yang usianya tidak terlalu berbeda jauh denganku..
bagiku, menikah bukanlah hanya semata-mata hal yang harus dilakukan untuk sekedar hidup bersama pasangan atau untuk melegalkan (maaf) hubungan seks..
menikah itu harus punya visi!
ya. ibaratnya ketika kita menikah, kita sedang mengarungi lautan kehidupan yang luas.
kita ada dalam sebuah bahtera. kita dan pasangan yang menentukan kemana arahnya dan bagaimana mengarunginya.. dan ketika ada badai, maka bagaimana cara menghadapinya adalah tergantung dari kita dan pasangan..
memilih pasangan, pentingkah?
Rasulullah pernah bersabda bahwa pasangan itu dipilih berdasarkan 4 kriteria: hartanya, keturunannya, wajahnya, dan agamanya. maka pilihlah yang beragama, niscaya kamu akan bahagia.
dalam islam sangat dianjurkan untuk mencari pasangan yang beragama. dalam konteks ini yang disebut dengan beragama bukanlah hanya sekedar memiliki agama, namun juga bagaimana ketaatan serta ketakwaannya dalam menjalankan perintah Tuhannya.
jika urusannya dengan Tuhannya yang menciptakannya saja tidak beres, bagaimana dengan urusan-urusan yang lain?
bagiku, suami yang baik agamanya adalah suatu keharusan. menjadi suami bukanlah hanya sekedar urusan menafkahi lahir-batin. menjadi suami adalah menjadi imam, bukan hanya imam di dunia, namun juga imam yang dapat menuntun keluarganya menuju surga. karena di akhirat kelak, seorang suami harus mempertanggungjawabkan perbuatannya kepada Tuhan mengenai keluarganya.
selain masalah agama, masalah ilmu dan akhlak juga tidak kalah pentingnya.
laki-laki yang memiliki keistimewaan adalah laki-laki yang memiliki ketakwaan serta kesalihan akhlak. ia mengetahui hukum-hukum Allah mengenai bagaimana cara memperlakukan istri dan anak-anaknya, menjaga kehormatan dirinya, keluarga dan agamanya, sehingga dengan demikian ia dapat menjalankan kewajibannya secara sempurna sebagai suami, mendidik anak, dan memenuhi kebutuhan keluarganya dengan harta yang halal.
mengenai harta dan wajah, itu tidak menjadi prioritas utamaku.
bagiku, harta bisa dicari jika mau berusaha. karena sesungguhnya rezeki dari Allah pasti akan datang kepada hambanya yang bersungguh-sungguh.
dan mengenai wajah, jika hatinya baik, maka wajahnya pasti akan terlihat menarik.. :)
menjadi ibu rumah tangga, kenapa tidak?
mungkin bagi sebagian besar wanita ingin tetap bekerja setelah memiliki anak. menjadi wanita karir (mungkin) kelihatannya lebih keren dan prestisius jika dibandingkan dengan menjadi ibu rumah tangga.
menjadi wanita karir akan selalu berpenampilan rapi dan wangi, sedangkan menjadi ibu rumah tangga kesannya adalah berbaju daster dan bau asap dapur. begitulah kira-kira.
sebagian besar wanita berpikir bahwa ia pastilah bisa menyeimbangkan antara karir, rumah, dan suami. tapi kenyataannya tidak seindah apa yang dibayangkan. pasti akan ada salah satu pihak yang dikorbankan. dalam konteks ini biasanya yang menjadi korban adalah anak.
bagiku, pekerjaan paling mulia di dunia adalah menjadi ibu rumah tangga.
aku tidak butuh materi, aku hanya ingin membangun keluarga yang baik dari rumah..
aku ingin mendidik anak-anakku agar dapat menjadi sukses..
aku ingin mendidik anakku agar tidak salah gaul..
aku ingin membuatkan bekal makanan untuk anakku,
menyambutnya dengan hangat ketika ia pulang,
mendengar ceritanya sepulang sekolah,
membantunya membuat pekerjaan rumah,
menemaninya menonton TV,
membacakan dongeng sebelum ia tidur,
mengecup keningnya..
aku ingin menjadi istri yang baik suamiku, dan ibu yang baik bagi anak-anakku..
bagiku, kesuksesan dalam hal materi itu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kesuksesan dalam mendidik anak menjadi anak yang sukses.
karena sesungguhnya dibalik anak yang sukses ada ibu yang luar biasa.
anak adalah amanah dari Allah yang nantinya pasti akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah. bagaimana anak kita nantinya, ya tergantung bagaimana kita membentuknya..
aku tak ingin menelantarkan anak-anakku sehingga mereka mencari kesenangan lain dan terjerumus dalam hal-hal yang negatif..
Seandainya harus bekerja pun, aku ingin pekerjaan yang tidak terlalu menguras waktu dan dapat bisa bersama dengan anak-anakku..
... because your children need your presence (kehadiran) more than your presents (hadiah)..
Jumat, 02 Maret 2012
masihkah kamu berpikir tentang ke-'aku'-an?
tadi pagi, sebelum masuk, beberapa orang temanku bercerita dengan antusias terkait short course di luar negeri selama 2 bulan..
aku kurang tertarik.. aku bilang ke mereka: "bagiku, itu buang-buang waktu, dan ga enak banget kalo mesti ngulang2 mata kuliah lagi.."
kemudian salah satu dari mereka bilang: "tapi kan kalo udah ikut itu pengalaman kita banyak.. untuk ke depannya kita butuh banyak pengalaman."
"iya, banyak memang.. tapi ketika ngulang, kita harus bayar SPP lagi, dan membuang waktu. aku tidak suka mengulang.. aku tidak suka buang2 waktu. aku mau selesai kuliah tepat waktu."
"tapi pengalaman yang akan kita dapatkan itu lebih dari sekedar nilai SPP kita yang 2.310.000 itu.."
kemudian seorang teman menengahi "mungkin kita punya persepsi yang berbeda2.."
iya, kita punya persepsi yang berbeda....
seandainya Ayah saya masih hidup, mungkin apa yang saya pikirkan masih sama dengan apa yang kalian pikirkan, masih seputar ke-"aku"-an..
apa yg nyaman menurut "aku",
apa yang baik untuk "aku",
dan hal lain yang bersifat ke-"aku"-an...
tapi........
sejak detik pertama beliau pergi, ada rencana hidup yang harus aku ubah..
aku adalah anak pertama dari tiga bersaudara..
adikku yang kedua kuliah di luar dengan biaya kuliah belasan juta pertahunnya..
adikku yang paling kecil masih kelas 4 SD,
ibuku adalah seorang Ibu Rumah Tangga.
sekarang, aku ga mau jauh-jauh dari keluargaku..
kalau ada apa-apa dengan ibuku, bagaimana?
ibuku pastilah berharap agar aku segera selesai kuliah..
orang tua mana sih yang mau anaknya lama-lama selesain kuliah?
aku memiliki tanggung jawab yang lebih besar dari pada kalian..
aku adalah anak pertama. tumpuan harapan orang tuaku..
tentunya aku harus berpikir lebih jauh,
tidak mementingkan kepentingan diri sendiri, tapi juga kepentingan bersama..
harus mendahulukan kepentingan umum diatas kepentingan pribadi...
aku berpikir, jika memang ada rezeki ku untuk "itu",
pastilah akan ALLAH tunjukkan padaku jalannya..
nah, sekarang, coba seandainya kita balik nih posisinya..
kamu ada di posisi aku sekarang ini...
masihkan kamu berpikir tentang ke-'aku'-an?
aku kurang tertarik.. aku bilang ke mereka: "bagiku, itu buang-buang waktu, dan ga enak banget kalo mesti ngulang2 mata kuliah lagi.."
kemudian salah satu dari mereka bilang: "tapi kan kalo udah ikut itu pengalaman kita banyak.. untuk ke depannya kita butuh banyak pengalaman."
"iya, banyak memang.. tapi ketika ngulang, kita harus bayar SPP lagi, dan membuang waktu. aku tidak suka mengulang.. aku tidak suka buang2 waktu. aku mau selesai kuliah tepat waktu."
"tapi pengalaman yang akan kita dapatkan itu lebih dari sekedar nilai SPP kita yang 2.310.000 itu.."
kemudian seorang teman menengahi "mungkin kita punya persepsi yang berbeda2.."
iya, kita punya persepsi yang berbeda....
seandainya Ayah saya masih hidup, mungkin apa yang saya pikirkan masih sama dengan apa yang kalian pikirkan, masih seputar ke-"aku"-an..
apa yg nyaman menurut "aku",
apa yang baik untuk "aku",
dan hal lain yang bersifat ke-"aku"-an...
tapi........
sejak detik pertama beliau pergi, ada rencana hidup yang harus aku ubah..
aku adalah anak pertama dari tiga bersaudara..
adikku yang kedua kuliah di luar dengan biaya kuliah belasan juta pertahunnya..
adikku yang paling kecil masih kelas 4 SD,
ibuku adalah seorang Ibu Rumah Tangga.
sekarang, aku ga mau jauh-jauh dari keluargaku..
kalau ada apa-apa dengan ibuku, bagaimana?
ibuku pastilah berharap agar aku segera selesai kuliah..
orang tua mana sih yang mau anaknya lama-lama selesain kuliah?
aku memiliki tanggung jawab yang lebih besar dari pada kalian..
aku adalah anak pertama. tumpuan harapan orang tuaku..
tentunya aku harus berpikir lebih jauh,
tidak mementingkan kepentingan diri sendiri, tapi juga kepentingan bersama..
harus mendahulukan kepentingan umum diatas kepentingan pribadi...
aku berpikir, jika memang ada rezeki ku untuk "itu",
pastilah akan ALLAH tunjukkan padaku jalannya..
nah, sekarang, coba seandainya kita balik nih posisinya..
kamu ada di posisi aku sekarang ini...
masihkan kamu berpikir tentang ke-'aku'-an?
Senin, 27 Februari 2012
Sebuah Kisah Tentang Beliau
seharian ini aku disibukkan dengan kuliah dan mengurusi asuransi credit card alm ayahku.. agak ribet sih berurusan sama pihak asuransi, pihak bank, dan juga harus melihat form yg isinya pertanyaan2 yang aneh itu..
kemudian dari situ lahirlah berbagai cerita...
ketika masih tinggal di Manado, ayah punya 5 (atau lebih) credit card yang tiap belanja gonta-ganti make nya.. Alhamdulillah selama tinggal disana diberi banyak kemudahan sama Allah SWT, sehingga dapat menikmati segalanya..
aku tanya sama mama, "kok bisa melimpah kali rejeki kita disana?"
kata mama: "itu karena ayah ke (kamu), pemurah, dermawan, suka bagi2 rejeki sama pegawai2 lain.."
"maksudnya?"
"gini, diantara bidang2 lain yang ada di kantor, bidangnya Ayah yang paling banyak kerjaan, paling banyak duit masuk.."
"duit masuk dari mana? dari dinas?"
"iya. pegawai lain dari bidang Tata Usaha (TU) kan paling banyak yg nganggur, jadi kalo ada dinas gitu Ayah suka ajak mereka juga. mereka senang karena dapat duit dari dinas2 itu. mereka senang semua sama Ayah karena Ayah suka bagi2 rejeki sama mereka. Ayah udah kayak atasan nya mereka sendiri, padahal Ayah kabid di bidang lain.."
"kalo kita baek sama orang, bisa menghindari kecemburuan sosial.. semua orang suka sama Ayah, buktinya waktu perpisahan kita pindah, orang2 pada nangis, sampe ibu2 ada bikin group vokal, ada yg baca puisi.. acara perpisahan kita lebih meriah dari pada acara perpisahannya Kaper (kepala perwakilan). orang disana sampe nangis2 dan pengen Ayah balik lagi ke Manado untuk jadi Kaper di sana.."
"ayah itu orangnya pendiam, ga sombong.. walaupun OB, sekuriti, atau sama pegawai2 bawahan lain Ayah tetep menghargai, tetap dibantu dan diajak ngobrol sama Ayah.. itulah ya kalo kita baek sama orang lain, dimudahkan semua jalan kita sama Allah, kalo kita rajin sedekah, banyak berbagi, dilipatgandakan rejeki kita sama Allah.."
kadang Ayahku punya sesuatu tapi kaminya suka ga tau, termasuk mamaku.. sampai tadi ketika membuka file2 penting, kami malah terkaget2, ternyata ayah punya saham di salah satu perusahaannya B.J Habibie yang Ayah beli pada tahun 90-an, sebelum Habibie menjadi presiden RI.. dan mama ga pernah tau tentang itu. ayah ga pernah cerita.
kemudian mamaku menambahkan:
"ini ya, aku kasih tau sama ke apa aja harta peninggalan aku sama Ayah.. entah nanti aku pendek umur, setidaknya ke tau. ada bla bla di bla bla bla bla...."
"itu harta jangan sampe gara2 itu kalian beradek2 jadi berantam. jangan tiru yang lain2 itu yg gara2 harta hilang persaudaraan. ini peninggalan dari kami digunakan baek2, untuk pendidikan, sekolah setinggi2 mungkin. untuk apa kita harta banyak2, yang penting punya ilmu.. kalo masalah harta untuk memperkaya diri masing2, itu urusan kalian lah. kalian cari masing2.."
ayahku bukanlah dari keluarga kaya raya. ayahku sejak kecil dibiasakan hidup sederhana. nenekku adalah seorang guru, sedangkan kakekku hanyalah seorang pegawai pos biasa. ayah telah terbiasa hidup susah sejak masih kecil. untuk menuju sekolah, ayah harus bangun pagi2, membantu nenek menyuci dan menyiapkan makanan, dan kemudian menempuh jarak puluhan kilometer dengan mengayuh sepeda butut utuk mencapai sekolah.
ayahku adalah orang yang cemerlang disekolah.. selalu dapat peringkat pertama di kelas, namun tetap rendah hati.. dari berbagai orang yang aku lihat, Ayahku adalah orang yang benar2 mampu mengkombinasikan kemampuan IQ, EQ, dan SQ nya.. tak heran mengapa beliau dapat meraih kesuksesan di usia muda.
aku ngeliat, ayahku itu memang orang yang bener2 rapi, detail, dan teliti.. setiap pemasukan dan pengeluarannya per bulan selalu beliau catat..
ayah selalu menyimpan struk/ bon pembelian di dalam dompetnya..
beliau adalah seorang hardworker dan pemimpin yang baik..
ketika mama menikah dengan Ayah, mama ga perlu merasakan sulitnya hidup berumah tangga. karena ketika menikah, Ayah sudah memiliki penghasilan tetap sebagai pegawai pemerintah pusat. dan mama hidup di kota besar, bergaul dengan orang2 dari berbagai daerah, belajar banyak dari teman2nya yang berasal dari berbagai daerah..
tidak hanya mama, tapi aku dan adik2 juga merasakan hal yang sama. ikut menikmati hasil keringat Ayah..
secara pribadi,
sejak kecil kedua orang tuaku sangat memanjakan aku. dari umur tiga tahun mereka telah mengasah bakatku.
aku diikutkan dalam sekolah menggambar untuk merangsang kemampuan motorik, kreativitas dan daya imajinasiku.
ketika masuk usia SD aku dibelikan piano, keyboard dan alat musik lainnya.. agar aku dan adik2ku pintar bermusik..
sejak SD ayah mengajarkanku bahasa Inggris, memasukkanku dalam berbagai kursus keterampilan, membelikanku berbagai macam buku pelajaran, buku pengetahuan umum, peralatan melukis, peralatan menggambar, berbagai CD edukasi, perangkat pembelajaran, dan lain sebagainya.
selain itu mama mengajarkan berbagai macam seni rupa seperti menjahit, menyulam, merajut, membuat kerajinan tangan, dll.
orang tua ku ingin aku menjadi anak yang serba bisa..
sejak kecil aku telah diberikan berbagai fasilitas yang (bisa dikatakan) terlalu mewah untuk anak seusiaku..
sejak kelas satu SMP (tahun 2003) aku udah punya HP sendiri, hadiah ulang tahun.. dimana pada jaman itu, HP merupakan barang mewah dan langka, ga semua orang punya.. dan aku menggunakan provider kelas atas di Indonesia: Kartu Halo, yang jaman itu tarifnya super duper mahal kalo dibandingkan sama tarifnya sekarang.. tiap bulan tagihan kartu halo ku mencapai jutaan rupiah..
aku udah ngerasain nikmatnya menggunakan berbagai macam kartu kredit, beli apa aja tinggal geseeeeeekk...
aku mendapatkan itu ketika umurku masih 15 tahun, sekitar kelas satu SMA..
dan pada usia yang sama, aku telah dibebaskan untuk beberapa kali jalan2 seorang diri dari Indonesia bagian timur ke Indonesia bagian barat HANYA SEORANG DIRI..
menikmati fasilitas eksklusif di airport lounge bagi pemegang credit card tertentu dan ga perlu berada di waiting room yang membosankan..
aku udah ngerasain asiknya nginap dan liburan di hotel internasional yang kelasnya bintang lima ke atas, swimming di kolam renang hotel berbintang, mengikuti jamuan makan malam, dan dengan segala kemewahan yang ditawarkannya..
aku udah pernah rasa yang namanya gonta ganti hape terbaru dari berbagai merek terkenal,
udah rasa yang namanya tiap liburan pasti jalan2 keluar kota dan berwisata ke tempat2 asik..
udah rasa yang namanya mejeng di mall2 tiap pulang sekolah n tiap weekend.,
tiap hari ada supir khusus untuk antar-jemput aku dan adikku ke sekolah..
dan semua itu aku rasain bukan saat aku tinggal di 'kota kecil' Banda Aceh ini.. tapi di sebuah kota metropolitan yang kalo dibandingkan dengan banda aceh dan medan, banda aceh dan medan ini ga ada apa2nya..
bahkan aku heran sama orang2 sombong di banda Aceh ini..
hello, masih dalam ruang lingkup banda aceh, kota kecil ini aja kok sombong?
walaupun begitu, aku ngerasainnya biasa aja.. ga sedikitpun aku sombong atau sok elit di hadapan teman2ku..
aku tetep Silfana yg mereka kenal, yang sering kemana2 berpanas2an naik angkot sama temen2 semua..
bahkan sampai sekarang pun aku masih sering naik angkot dan naik damri..
aku suka mengamati perilaku orang2 di angkutan umum..
aku suka keramahan bapak kondektur damri yang biasa aku temui..
for some reasons, ayahku ga mengizinkan aku untuk membeli motor. dan aku turuti sampai sekarang.
jadi ya kemana2 aku naik angkot atau nebeng sama temen..
aku inget ayahku pernah bilang bahwa ayah sengaja ingin aku capek, panas-panasan dalam berjuang (sekolah, kuliah). ayah dulu juga gitu, capek kuliah-pulang. seperti kata pepatah: bersakit2 dahulu, bersenang2 kemudian. ayah ingin aku ngerasain yang susah2 dulu, berjuang dulu, panas2an dulu. ayah yakin, Allah menghitung setiap jerih payah yg kita lakukan dan kemudian akan membalasnya dengan sesuatu yang berbuah manis kemudian. seperti yang Ayah rasa.
aku udah lewatin masa2 itu semua.. dan aku bersyukur pernah ada disana...
jadi bagiku bukan masanya lagi buat nikmatin hasil keringat ayahku..
udah cukup bagiku merasakan segala kemewahan yang dulu pernah kurasa, yang ga mungkin kuceritakan semuanya secara rinci disini..
udah cukup masanya bagiku untuk disegani karena aku anak 'siapa'..
sekarang masanya aku berusaha untuk mengembalikan semua keadaan agar seindah dulu..
sekarang masanya aku berusaha biar mamaku, adik2ku dan keluargaku nantinya dapat merasakan kembali hidup enak kita dulu..
aku pengen kayak ayah, meskipun telah terkenal oleh rekan2 se-profesi se-indonesia, namun tetap rendah hati..
aku pengen kayak ayah, meskipun punya jabatan yg cukup penting, tapi masih tetap mengayomi para pekerja bawahan seperti OB, sekuriti, dll..
aku pengen kayak ayah, meskipun dekat dengan para pejabat dan petinggi daerah, namun tidak gentar: yang salah tetap salah, yang benar tetap benar..
aku kangen kesederhanaan ayah,
aku kangen cara ayah mendidik kami..
aku merindukan masa dimana kita pergi shalat maghrib bersama, melewati parit2 disekitar komplek yang gelap gulita hanya demi bisa tiba di mesjid..
aku rindu masa dimana kita shalat tarawih berjamaah di rumah dengan ayah sebagai imamnya.. dan kemudian kita mengakhiri shalat dengan syahdunya ritual salam-salaman..
aku rindu saat setiap malam kita ada di ranjang yang sama: aku, ayah, mama, dan adik2 berbaring di ranjang besar di kamar mama, bercanda, hingga kemudian kembali ke kamar masing2 untuk tidur..
aku rindu ayah mengantarkanku setiap pagi ke kampus sambilan ayah pergi ke kantor dengan mobil dinas..
aku rindu mengantarkan ayah ke bandara untuk pergi dinas: entah itu ke Jakarta, Bandung, Bogor, Semarang, dll..
kemudian menghitung hari kapan ayah akan kembali...
setiap Ayah kembali ayah pasti membawakan sesuatu yang selalu jadi kesukaanku: Dunkin Donut berkotak2!
ayah selalu tahu apa yang aku sukai...
dan kini, ketika Ayah telah tiada, rumah rasanya sepi..
hanya kami bertiga: aku, mama, dan Farras..
dan kini, setiap aku melihat ke lantai bawah, selalu terbayang suasana dulu, dan berharap ayah ada di sana dan keluar dari kamar untuk makan malam sambi nonton siaran di TV One..
setiap pagi aku hendak berangkat ke kampus, selalu berharap ada ayah sedang duduk di ruang tamu sambil membaca koran, menungguiku memakai sepatu..
banyak cerita tentang ayah.. banyak kenangan yang tak terlupakan..
semua kenangan adalah kenangan yang indah, yang ketika dikenang ada rasa sedih, dan juga senang karena pernah ada disana, menjalani hidup kita yang begitu indah..
dan kini, setelah ayah pergi, aku mencoba untuk berdamai dengan diriku sendiri, mencoba berdamai dengan perasaanku..
aku tanamkan dalam pikiranku: "Anggap saja sekarang ini ayah lagi pergi dinas.. ga usah dihitung berapa lama lagi Ayah akan kembali.. Untuk dinas kali ini, ketika Ayah pergi, mungkin ayah lupa kasih tahu kapan ayah akan kembali.. dan semoga ketika Ayah kembali nantinya, selain membawa setumpuk baju kotor, ayah juga akan membawa beberapa kotak Donut lezat dengan aneka rasa yang akan kita nikmati bersama.."
We Love You, Daddy.. Always.. :)
kemudian dari situ lahirlah berbagai cerita...
ketika masih tinggal di Manado, ayah punya 5 (atau lebih) credit card yang tiap belanja gonta-ganti make nya.. Alhamdulillah selama tinggal disana diberi banyak kemudahan sama Allah SWT, sehingga dapat menikmati segalanya..
aku tanya sama mama, "kok bisa melimpah kali rejeki kita disana?"
kata mama: "itu karena ayah ke (kamu), pemurah, dermawan, suka bagi2 rejeki sama pegawai2 lain.."
"maksudnya?"
"gini, diantara bidang2 lain yang ada di kantor, bidangnya Ayah yang paling banyak kerjaan, paling banyak duit masuk.."
"duit masuk dari mana? dari dinas?"
"iya. pegawai lain dari bidang Tata Usaha (TU) kan paling banyak yg nganggur, jadi kalo ada dinas gitu Ayah suka ajak mereka juga. mereka senang karena dapat duit dari dinas2 itu. mereka senang semua sama Ayah karena Ayah suka bagi2 rejeki sama mereka. Ayah udah kayak atasan nya mereka sendiri, padahal Ayah kabid di bidang lain.."
"kalo kita baek sama orang, bisa menghindari kecemburuan sosial.. semua orang suka sama Ayah, buktinya waktu perpisahan kita pindah, orang2 pada nangis, sampe ibu2 ada bikin group vokal, ada yg baca puisi.. acara perpisahan kita lebih meriah dari pada acara perpisahannya Kaper (kepala perwakilan). orang disana sampe nangis2 dan pengen Ayah balik lagi ke Manado untuk jadi Kaper di sana.."
"ayah itu orangnya pendiam, ga sombong.. walaupun OB, sekuriti, atau sama pegawai2 bawahan lain Ayah tetep menghargai, tetap dibantu dan diajak ngobrol sama Ayah.. itulah ya kalo kita baek sama orang lain, dimudahkan semua jalan kita sama Allah, kalo kita rajin sedekah, banyak berbagi, dilipatgandakan rejeki kita sama Allah.."
kadang Ayahku punya sesuatu tapi kaminya suka ga tau, termasuk mamaku.. sampai tadi ketika membuka file2 penting, kami malah terkaget2, ternyata ayah punya saham di salah satu perusahaannya B.J Habibie yang Ayah beli pada tahun 90-an, sebelum Habibie menjadi presiden RI.. dan mama ga pernah tau tentang itu. ayah ga pernah cerita.
kemudian mamaku menambahkan:
"ini ya, aku kasih tau sama ke apa aja harta peninggalan aku sama Ayah.. entah nanti aku pendek umur, setidaknya ke tau. ada bla bla di bla bla bla bla...."
"itu harta jangan sampe gara2 itu kalian beradek2 jadi berantam. jangan tiru yang lain2 itu yg gara2 harta hilang persaudaraan. ini peninggalan dari kami digunakan baek2, untuk pendidikan, sekolah setinggi2 mungkin. untuk apa kita harta banyak2, yang penting punya ilmu.. kalo masalah harta untuk memperkaya diri masing2, itu urusan kalian lah. kalian cari masing2.."
***
ayahku bukanlah dari keluarga kaya raya. ayahku sejak kecil dibiasakan hidup sederhana. nenekku adalah seorang guru, sedangkan kakekku hanyalah seorang pegawai pos biasa. ayah telah terbiasa hidup susah sejak masih kecil. untuk menuju sekolah, ayah harus bangun pagi2, membantu nenek menyuci dan menyiapkan makanan, dan kemudian menempuh jarak puluhan kilometer dengan mengayuh sepeda butut utuk mencapai sekolah.
ayahku adalah orang yang cemerlang disekolah.. selalu dapat peringkat pertama di kelas, namun tetap rendah hati.. dari berbagai orang yang aku lihat, Ayahku adalah orang yang benar2 mampu mengkombinasikan kemampuan IQ, EQ, dan SQ nya.. tak heran mengapa beliau dapat meraih kesuksesan di usia muda.
aku ngeliat, ayahku itu memang orang yang bener2 rapi, detail, dan teliti.. setiap pemasukan dan pengeluarannya per bulan selalu beliau catat..
ayah selalu menyimpan struk/ bon pembelian di dalam dompetnya..
beliau adalah seorang hardworker dan pemimpin yang baik..
ketika mama menikah dengan Ayah, mama ga perlu merasakan sulitnya hidup berumah tangga. karena ketika menikah, Ayah sudah memiliki penghasilan tetap sebagai pegawai pemerintah pusat. dan mama hidup di kota besar, bergaul dengan orang2 dari berbagai daerah, belajar banyak dari teman2nya yang berasal dari berbagai daerah..
tidak hanya mama, tapi aku dan adik2 juga merasakan hal yang sama. ikut menikmati hasil keringat Ayah..
secara pribadi,
sejak kecil kedua orang tuaku sangat memanjakan aku. dari umur tiga tahun mereka telah mengasah bakatku.
aku diikutkan dalam sekolah menggambar untuk merangsang kemampuan motorik, kreativitas dan daya imajinasiku.
ketika masuk usia SD aku dibelikan piano, keyboard dan alat musik lainnya.. agar aku dan adik2ku pintar bermusik..
sejak SD ayah mengajarkanku bahasa Inggris, memasukkanku dalam berbagai kursus keterampilan, membelikanku berbagai macam buku pelajaran, buku pengetahuan umum, peralatan melukis, peralatan menggambar, berbagai CD edukasi, perangkat pembelajaran, dan lain sebagainya.
selain itu mama mengajarkan berbagai macam seni rupa seperti menjahit, menyulam, merajut, membuat kerajinan tangan, dll.
orang tua ku ingin aku menjadi anak yang serba bisa..
sejak kecil aku telah diberikan berbagai fasilitas yang (bisa dikatakan) terlalu mewah untuk anak seusiaku..
sejak kelas satu SMP (tahun 2003) aku udah punya HP sendiri, hadiah ulang tahun.. dimana pada jaman itu, HP merupakan barang mewah dan langka, ga semua orang punya.. dan aku menggunakan provider kelas atas di Indonesia: Kartu Halo, yang jaman itu tarifnya super duper mahal kalo dibandingkan sama tarifnya sekarang.. tiap bulan tagihan kartu halo ku mencapai jutaan rupiah..
aku udah ngerasain nikmatnya menggunakan berbagai macam kartu kredit, beli apa aja tinggal geseeeeeekk...
aku mendapatkan itu ketika umurku masih 15 tahun, sekitar kelas satu SMA..
dan pada usia yang sama, aku telah dibebaskan untuk beberapa kali jalan2 seorang diri dari Indonesia bagian timur ke Indonesia bagian barat HANYA SEORANG DIRI..
menikmati fasilitas eksklusif di airport lounge bagi pemegang credit card tertentu dan ga perlu berada di waiting room yang membosankan..
aku udah ngerasain asiknya nginap dan liburan di hotel internasional yang kelasnya bintang lima ke atas, swimming di kolam renang hotel berbintang, mengikuti jamuan makan malam, dan dengan segala kemewahan yang ditawarkannya..
aku udah pernah rasa yang namanya gonta ganti hape terbaru dari berbagai merek terkenal,
udah rasa yang namanya tiap liburan pasti jalan2 keluar kota dan berwisata ke tempat2 asik..
udah rasa yang namanya mejeng di mall2 tiap pulang sekolah n tiap weekend.,
tiap hari ada supir khusus untuk antar-jemput aku dan adikku ke sekolah..
dan semua itu aku rasain bukan saat aku tinggal di 'kota kecil' Banda Aceh ini.. tapi di sebuah kota metropolitan yang kalo dibandingkan dengan banda aceh dan medan, banda aceh dan medan ini ga ada apa2nya..
bahkan aku heran sama orang2 sombong di banda Aceh ini..
hello, masih dalam ruang lingkup banda aceh, kota kecil ini aja kok sombong?
walaupun begitu, aku ngerasainnya biasa aja.. ga sedikitpun aku sombong atau sok elit di hadapan teman2ku..
aku tetep Silfana yg mereka kenal, yang sering kemana2 berpanas2an naik angkot sama temen2 semua..
bahkan sampai sekarang pun aku masih sering naik angkot dan naik damri..
aku suka mengamati perilaku orang2 di angkutan umum..
aku suka keramahan bapak kondektur damri yang biasa aku temui..
for some reasons, ayahku ga mengizinkan aku untuk membeli motor. dan aku turuti sampai sekarang.
jadi ya kemana2 aku naik angkot atau nebeng sama temen..
aku inget ayahku pernah bilang bahwa ayah sengaja ingin aku capek, panas-panasan dalam berjuang (sekolah, kuliah). ayah dulu juga gitu, capek kuliah-pulang. seperti kata pepatah: bersakit2 dahulu, bersenang2 kemudian. ayah ingin aku ngerasain yang susah2 dulu, berjuang dulu, panas2an dulu. ayah yakin, Allah menghitung setiap jerih payah yg kita lakukan dan kemudian akan membalasnya dengan sesuatu yang berbuah manis kemudian. seperti yang Ayah rasa.
aku udah lewatin masa2 itu semua.. dan aku bersyukur pernah ada disana...
jadi bagiku bukan masanya lagi buat nikmatin hasil keringat ayahku..
udah cukup bagiku merasakan segala kemewahan yang dulu pernah kurasa, yang ga mungkin kuceritakan semuanya secara rinci disini..
udah cukup masanya bagiku untuk disegani karena aku anak 'siapa'..
sekarang masanya aku berusaha untuk mengembalikan semua keadaan agar seindah dulu..
sekarang masanya aku berusaha biar mamaku, adik2ku dan keluargaku nantinya dapat merasakan kembali hidup enak kita dulu..
aku pengen kayak ayah, meskipun telah terkenal oleh rekan2 se-profesi se-indonesia, namun tetap rendah hati..
aku pengen kayak ayah, meskipun punya jabatan yg cukup penting, tapi masih tetap mengayomi para pekerja bawahan seperti OB, sekuriti, dll..
aku pengen kayak ayah, meskipun dekat dengan para pejabat dan petinggi daerah, namun tidak gentar: yang salah tetap salah, yang benar tetap benar..
aku kangen kesederhanaan ayah,
aku kangen cara ayah mendidik kami..
aku merindukan masa dimana kita pergi shalat maghrib bersama, melewati parit2 disekitar komplek yang gelap gulita hanya demi bisa tiba di mesjid..
aku rindu masa dimana kita shalat tarawih berjamaah di rumah dengan ayah sebagai imamnya.. dan kemudian kita mengakhiri shalat dengan syahdunya ritual salam-salaman..
aku rindu saat setiap malam kita ada di ranjang yang sama: aku, ayah, mama, dan adik2 berbaring di ranjang besar di kamar mama, bercanda, hingga kemudian kembali ke kamar masing2 untuk tidur..
aku rindu ayah mengantarkanku setiap pagi ke kampus sambilan ayah pergi ke kantor dengan mobil dinas..
aku rindu mengantarkan ayah ke bandara untuk pergi dinas: entah itu ke Jakarta, Bandung, Bogor, Semarang, dll..
kemudian menghitung hari kapan ayah akan kembali...
setiap Ayah kembali ayah pasti membawakan sesuatu yang selalu jadi kesukaanku: Dunkin Donut berkotak2!
ayah selalu tahu apa yang aku sukai...
dan kini, ketika Ayah telah tiada, rumah rasanya sepi..
hanya kami bertiga: aku, mama, dan Farras..
dan kini, setiap aku melihat ke lantai bawah, selalu terbayang suasana dulu, dan berharap ayah ada di sana dan keluar dari kamar untuk makan malam sambi nonton siaran di TV One..
setiap pagi aku hendak berangkat ke kampus, selalu berharap ada ayah sedang duduk di ruang tamu sambil membaca koran, menungguiku memakai sepatu..
banyak cerita tentang ayah.. banyak kenangan yang tak terlupakan..
semua kenangan adalah kenangan yang indah, yang ketika dikenang ada rasa sedih, dan juga senang karena pernah ada disana, menjalani hidup kita yang begitu indah..
dan kini, setelah ayah pergi, aku mencoba untuk berdamai dengan diriku sendiri, mencoba berdamai dengan perasaanku..
aku tanamkan dalam pikiranku: "Anggap saja sekarang ini ayah lagi pergi dinas.. ga usah dihitung berapa lama lagi Ayah akan kembali.. Untuk dinas kali ini, ketika Ayah pergi, mungkin ayah lupa kasih tahu kapan ayah akan kembali.. dan semoga ketika Ayah kembali nantinya, selain membawa setumpuk baju kotor, ayah juga akan membawa beberapa kotak Donut lezat dengan aneka rasa yang akan kita nikmati bersama.."
We Love You, Daddy.. Always.. :)
Sabtu, 17 Desember 2011
Curhatan untuk Silfana
ini copas dari email yaaa.. :)
**************************************
Silfana,
Main pura-puraan yuk ;-)
Silfana pinjem tas temen-temennya
taruh diatas lapak atau karpet gitu..
trus duduk yang lamaaaa gitu,
kali ini pura-pura lagi nungguin jualan.
atau,
ambil kantong plastik sekitar 10 biji
masing-masing isi dengan bata 1 biji aja
lalu, sangkutin di kayu panjang,
5 dikiri
5 dikanan
habis itu, angkat deh kayunya dipundak gitu
dibawa jalan keliling kompleks,
tiga puteraan ajaa :p
Gimana rasanya?
Atau, paling ga
(kalo emang ga nyobain hehe)...
gimana kira-kira rasanya menghayal melakukan dua hal ini?
takut? malu? deg-degan? capek?
Silfana,
Sambil nulis ini... saya lagi nahan-nahanin airmata terus...
Karena baruuuuu aja ngerasa diingetin sama Yang Atas.
Tadi pulang sekolah, sambil nyetir,
saya lagi ngebayangin mau punya cincin baru
yang baru selese dibikinin temen di toko multiplynya.
Rasanya ga sabaaar banget nungguin bonus Ori ditransfer
biar cepet-cepet bayar...
Sambil ngayal gitu...
jalanan agak macet...tiba-tiba..
ngeliat ada bapak-bapak setengah baya gitu..
berenti dipinggir jalan...
mukanya kesakitan :(
Persis pas mobil ngelewatin...
saya bisa ngeliat dengan jelas, blio bawa ember ditangan kiri.
isinya, sarang lebah.
ditangan kanannya,
blio bawa 1 botol madu yang sebetulnya terlihat ringan
ngga tau kenapa terlihat begitu berat dibawanya.
Tapiii....
I will not forget his face.
kayak yang kesakitaaaann gituu :(
Momen itu...saya langsung nge- gas mobil..
menjauh...kayak ada rasa bersalah
kenapa??
karena saya baru mikir akan ngeluarin ratusan ribu
untuk beli cincin!!
hiks...
Iyaaa Silfana, rasanya bersalaaaahh bangettt.
Saat itu dipikiran...langsung merasa malu.
Duh Ya Allah, saat ini...
saya dikasih sebuah kerjaan yang enak banget.
Yang bisa saya lakukan tanpa perlu bawa barang kepanasan.
tanpa perlu duduk diam lama ditengah terik matahari
-- dilewatin orang begitu aja.
tanpa perlu menahan sakit atau lapar atau haus ;(
tanpa perlu menahan bau seperti layaknya pemulung
tanpa perlu berdesak-desakan diantara kerumunan orang
and yet...
Saya masih ada diposisi yang masih suka ngeluh,
masih keluar marah-marahnya,
ga sabarannya...
dan saat udah dikasih rejeki lebih...
malah upgrading untuk hal-hal yang ga perlu :(
maksudnya mau cerita ini...
ga macem-macem kok Silfana...
Ngerasa habis dijewer sama Yang Atas...
Pengen ngajakin Silfana
untuk mensyukuri posisi kita saat ini.
mau ada di level berapapun kita
atau belum sama sekali?
Jangan langsung menyerah yaa?
Pasti ga mudah :(
Ditolak...takut malu..gengsi...
Gagal target..jadi sedih...
Diremehin donlen...
diremehin istri atau suami?
Dicuekin aplen...
Habis ngantor capek harus urusin order, dll...
adaaa aja di keseharian kita.
Tapi ...
mending mana,
Hidup Silfana saat ini atau Bapak yang tadi saya ceritain?
Setelah 1 kilometer tancap gas...
akhirnya saya balik arah karena kepikiran...
berharap Blio masih ada.
depan pom bensin, blio sedang melakukan hal yang sama.
meletakkan dagangannya..sambil muka meringis...
Jendela saya buka...
dan saya ulurkan tangan memberikan apa yang tergenggam.
Saat itu,
saya melihat tangan kanannya terbungkus perban seadanya,
padahal, bengkak sekali...
ngga heran, bawa 1 botol madu saja terlihat amat susah :(
Lalu, blio menerima uluran saya dengan tangan kirinya,
sambil menahan sakit, blio bilang:
"maaf neng tangan kiri, tangannnya sakit...dstnya dstnya.."
saya ngga denger apa yang blio bilang
karena saya berusaha keras menahan air mata...
melirik ke bangku sebelah tempat tas baru saya tergeletak :(
hanya terdengar kata-kata blio, "....dunia, akhirat"
duuh...
air mata betul-betul tumpah.
membayangkan kesakitan seorang Bapak,
yang mungkin punya tanggungan anak, sedang sakit,
dan tetap harus mencari nafkah dengan jalan apapun :(
Silfana, janji yaaa.
kalo insyaAllah udah dalam posisi sukses, posisi enak...
never ever do what I just did dengan bonus belasan juta itu.
melupakan bahwa disekitar saya masih banyak yang membutuhkan :(
Silfana masih butuh mimpi untuk bertahan disini?
Pandangi muka si kecil saat sedang terlelap.
bayangkan apa yang bisa Silfana berikan untuk mereka.
Pandangi muka suami atau istri yang tertidur kecapean
karena pulang ngantor, lembur, atau apa aja.
Pernah ngga,
Silfana ngelus tangan orangtua yang sudah keriput itu?
Saat ini saya sampe ngga berani megangin tangan mamaku berlama-lama.
takut nangis didepannya.
Saat ini blio sedang melawan kanker...
dan ayah saya yang sudah berumur 70 tahun lebih
setiap hari masih harus berfikir keras untuk membayar pengobatan...
jadii,
kalo ada yang bilang,
Iiihh aplennya kok gitu amat si Silfana...
oriflaaaammeee teruss..
narssiiiis terus di blog nya ngomongin duit ini itulah :-)
si nadia kok jutek amat yaaa jadi aplen...
kalo ada dline ndableg, nanya, atau apalah...
sigh...
Maafin saya yaaa.
hiks... mudah2an Silfana ngerti yaa..
Saya hanya lagi berusaha keras mencari cara
ngebahagiain orang-orang yang saya sayangin banget.
Kadang, ngga bisa selamanya tampil "sempurna".
Kalo memang mau berhasil disini.
Silfana harus mulai juga berfikir tentang mereka yaa?
Orang-orang yang Silfana sayangi.
Harus mulai berfikir tentang Bapak pembawa madu yang kesakitan :(
Tentang penjual sayur keliling yang harus berjalan jam 4 pagi
ngedorong dagangan ke perumahan-perumahan
dengan untung hanya 20rb perak sehari.
Tentang supir angkot atau bis yang tiap hari harus melewati
jalan yang ituu ituu lagi 12 jam sehari ditengah terik matahari.
Silfana bisa kasih apa ya ke mereka?
Bandingin kerja keras mereka
dengan apa yang harus Silfana lakukan saat ini
untuk bisa bertahan di bisnis ini.
Banyak orang-orang yang butuh bantuan kita ternyata ya?
Dan kita harus stop memikirkan diri sendiri.
Iyaa ini bisnis yang ngga mudah, betul kok.
Tantangannya Silfana.. adalah tantangan saya juga...
ternyata Alhamdulillah, 2,5 tahun dBC Network...
saya ketemu dengan teman-teman yang
punya banyak mimpi yang sama.
Yang menemukan tantangan yang juga beraneka ragam.
Satu per satu, mereka mulai melewati tantangan itu.
Saya berharap, Silfana juga
akan menjadi salah satu dari mereka yaaa.
Amiiinnn.
Maaf yaa Silfana,
selama ini saya hanya terus menerus mengingatkan tentang,
bonus yang jutaan.
mobil mewah yang bisa kita dapetin.
asiknya jalan-jalan ke luar negeri.
enaknya jadi diamond...dsbnya...dsbnya.
Saya habis dijewer Yang Atas.
karena sebetulnya saya punya kewajiban ngingetin Silfana...
untuk juga melihat kebawah...
ke dline yang membutuhkan bantuan lebih...dorongan lebih...
ke orang-orang yang lebih susah dibanding kita.
Kita bukan sedang memikirkan diri sendiri.
Saya kebayang...
ada diantara kita atau mungkin Silfana sendiri?
yang masih harus ke warnet untuk cek email, follow up prospek...
masih naik bis bawa belanjaan Ori,
repot bawa anak tiap kali antri ke kantor Oriflame.
masih mikir ngeluarin pulsa untuk follow up donlen via telpon, sms.
I wish... I really wish untuk bisa langsung bilang,
tenaaangg dikit lagi juga jadi tuhh si Silfana.
sayangnya saya ga punya kepastian untuk itu :(
semua tergantung Silfana sendiri.
Saya cuma bisa bilang, bahwa setahu saya...
yang namanya rahmat Tuhan...
nggak pernah salah alamat...
ngga pernah salah waktunya...
Yang Atas pasti Yang Maha Tahu
apa yang terbaik buat Silfana.
Rejeki itu akan datang...
hanya untuk mereka yang memang meminta,
dan bekerja keras untuk itu.
Kita belajar sama-sama ya Silfana.
Kita saling colek untuk ngingetin.
Kita melihat ke atas,
ke para Diamond yang sudah "enak" itu ;-)
sambil...
kita juga tetap melihat kedepan dan kebawah..
dan berdoa bahwa apa yang kita lakukan sekarang
akan selalu mendapatkan kemudahan dariNya. Amiin.
----
Nadia Meutia
Co Founder dBC Network
**************************************
Silfana,
Main pura-puraan yuk ;-)
Silfana pinjem tas temen-temennya
taruh diatas lapak atau karpet gitu..
trus duduk yang lamaaaa gitu,
kali ini pura-pura lagi nungguin jualan.
atau,
ambil kantong plastik sekitar 10 biji
masing-masing isi dengan bata 1 biji aja
lalu, sangkutin di kayu panjang,
5 dikiri
5 dikanan
habis itu, angkat deh kayunya dipundak gitu
dibawa jalan keliling kompleks,
tiga puteraan ajaa :p
Gimana rasanya?
Atau, paling ga
(kalo emang ga nyobain hehe)...
gimana kira-kira rasanya menghayal melakukan dua hal ini?
takut? malu? deg-degan? capek?
Silfana,
Sambil nulis ini... saya lagi nahan-nahanin airmata terus...
Karena baruuuuu aja ngerasa diingetin sama Yang Atas.
Tadi pulang sekolah, sambil nyetir,
saya lagi ngebayangin mau punya cincin baru
yang baru selese dibikinin temen di toko multiplynya.
Rasanya ga sabaaar banget nungguin bonus Ori ditransfer
biar cepet-cepet bayar...
Sambil ngayal gitu...
jalanan agak macet...tiba-tiba..
ngeliat ada bapak-bapak setengah baya gitu..
berenti dipinggir jalan...
mukanya kesakitan :(
Persis pas mobil ngelewatin...
saya bisa ngeliat dengan jelas, blio bawa ember ditangan kiri.
isinya, sarang lebah.
ditangan kanannya,
blio bawa 1 botol madu yang sebetulnya terlihat ringan
ngga tau kenapa terlihat begitu berat dibawanya.
Tapiii....
I will not forget his face.
kayak yang kesakitaaaann gituu :(
Momen itu...saya langsung nge- gas mobil..
menjauh...kayak ada rasa bersalah
kenapa??
karena saya baru mikir akan ngeluarin ratusan ribu
untuk beli cincin!!
hiks...
Iyaaa Silfana, rasanya bersalaaaahh bangettt.
Saat itu dipikiran...langsung merasa malu.
Duh Ya Allah, saat ini...
saya dikasih sebuah kerjaan yang enak banget.
Yang bisa saya lakukan tanpa perlu bawa barang kepanasan.
tanpa perlu duduk diam lama ditengah terik matahari
-- dilewatin orang begitu aja.
tanpa perlu menahan sakit atau lapar atau haus ;(
tanpa perlu menahan bau seperti layaknya pemulung
tanpa perlu berdesak-desakan diantara kerumunan orang
and yet...
Saya masih ada diposisi yang masih suka ngeluh,
masih keluar marah-marahnya,
ga sabarannya...
dan saat udah dikasih rejeki lebih...
malah upgrading untuk hal-hal yang ga perlu :(
maksudnya mau cerita ini...
ga macem-macem kok Silfana...
Ngerasa habis dijewer sama Yang Atas...
Pengen ngajakin Silfana
untuk mensyukuri posisi kita saat ini.
mau ada di level berapapun kita
atau belum sama sekali?
Jangan langsung menyerah yaa?
Pasti ga mudah :(
Ditolak...takut malu..gengsi...
Gagal target..jadi sedih...
Diremehin donlen...
diremehin istri atau suami?
Dicuekin aplen...
Habis ngantor capek harus urusin order, dll...
adaaa aja di keseharian kita.
Tapi ...
mending mana,
Hidup Silfana saat ini atau Bapak yang tadi saya ceritain?
Setelah 1 kilometer tancap gas...
akhirnya saya balik arah karena kepikiran...
berharap Blio masih ada.
depan pom bensin, blio sedang melakukan hal yang sama.
meletakkan dagangannya..sambil muka meringis...
Jendela saya buka...
dan saya ulurkan tangan memberikan apa yang tergenggam.
Saat itu,
saya melihat tangan kanannya terbungkus perban seadanya,
padahal, bengkak sekali...
ngga heran, bawa 1 botol madu saja terlihat amat susah :(
Lalu, blio menerima uluran saya dengan tangan kirinya,
sambil menahan sakit, blio bilang:
"maaf neng tangan kiri, tangannnya sakit...dstnya dstnya.."
saya ngga denger apa yang blio bilang
karena saya berusaha keras menahan air mata...
melirik ke bangku sebelah tempat tas baru saya tergeletak :(
hanya terdengar kata-kata blio, "....dunia, akhirat"
duuh...
air mata betul-betul tumpah.
membayangkan kesakitan seorang Bapak,
yang mungkin punya tanggungan anak, sedang sakit,
dan tetap harus mencari nafkah dengan jalan apapun :(
Silfana, janji yaaa.
kalo insyaAllah udah dalam posisi sukses, posisi enak...
never ever do what I just did dengan bonus belasan juta itu.
melupakan bahwa disekitar saya masih banyak yang membutuhkan :(
Silfana masih butuh mimpi untuk bertahan disini?
Pandangi muka si kecil saat sedang terlelap.
bayangkan apa yang bisa Silfana berikan untuk mereka.
Pandangi muka suami atau istri yang tertidur kecapean
karena pulang ngantor, lembur, atau apa aja.
Pernah ngga,
Silfana ngelus tangan orangtua yang sudah keriput itu?
Saat ini saya sampe ngga berani megangin tangan mamaku berlama-lama.
takut nangis didepannya.
Saat ini blio sedang melawan kanker...
dan ayah saya yang sudah berumur 70 tahun lebih
setiap hari masih harus berfikir keras untuk membayar pengobatan...
jadii,
kalo ada yang bilang,
Iiihh aplennya kok gitu amat si Silfana...
oriflaaaammeee teruss..
narssiiiis terus di blog nya ngomongin duit ini itulah :-)
si nadia kok jutek amat yaaa jadi aplen...
kalo ada dline ndableg, nanya, atau apalah...
sigh...
Maafin saya yaaa.
hiks... mudah2an Silfana ngerti yaa..
Saya hanya lagi berusaha keras mencari cara
ngebahagiain orang-orang yang saya sayangin banget.
Kadang, ngga bisa selamanya tampil "sempurna".
Kalo memang mau berhasil disini.
Silfana harus mulai juga berfikir tentang mereka yaa?
Orang-orang yang Silfana sayangi.
Harus mulai berfikir tentang Bapak pembawa madu yang kesakitan :(
Tentang penjual sayur keliling yang harus berjalan jam 4 pagi
ngedorong dagangan ke perumahan-perumahan
dengan untung hanya 20rb perak sehari.
Tentang supir angkot atau bis yang tiap hari harus melewati
jalan yang ituu ituu lagi 12 jam sehari ditengah terik matahari.
Silfana bisa kasih apa ya ke mereka?
Bandingin kerja keras mereka
dengan apa yang harus Silfana lakukan saat ini
untuk bisa bertahan di bisnis ini.
Banyak orang-orang yang butuh bantuan kita ternyata ya?
Dan kita harus stop memikirkan diri sendiri.
Iyaa ini bisnis yang ngga mudah, betul kok.
Tantangannya Silfana.. adalah tantangan saya juga...
ternyata Alhamdulillah, 2,5 tahun dBC Network...
saya ketemu dengan teman-teman yang
punya banyak mimpi yang sama.
Yang menemukan tantangan yang juga beraneka ragam.
Satu per satu, mereka mulai melewati tantangan itu.
Saya berharap, Silfana juga
akan menjadi salah satu dari mereka yaaa.
Amiiinnn.
Maaf yaa Silfana,
selama ini saya hanya terus menerus mengingatkan tentang,
bonus yang jutaan.
mobil mewah yang bisa kita dapetin.
asiknya jalan-jalan ke luar negeri.
enaknya jadi diamond...dsbnya...dsbnya.
Saya habis dijewer Yang Atas.
karena sebetulnya saya punya kewajiban ngingetin Silfana...
untuk juga melihat kebawah...
ke dline yang membutuhkan bantuan lebih...dorongan lebih...
ke orang-orang yang lebih susah dibanding kita.
Kita bukan sedang memikirkan diri sendiri.
Saya kebayang...
ada diantara kita atau mungkin Silfana sendiri?
yang masih harus ke warnet untuk cek email, follow up prospek...
masih naik bis bawa belanjaan Ori,
repot bawa anak tiap kali antri ke kantor Oriflame.
masih mikir ngeluarin pulsa untuk follow up donlen via telpon, sms.
I wish... I really wish untuk bisa langsung bilang,
tenaaangg dikit lagi juga jadi tuhh si Silfana.
sayangnya saya ga punya kepastian untuk itu :(
semua tergantung Silfana sendiri.
Saya cuma bisa bilang, bahwa setahu saya...
yang namanya rahmat Tuhan...
nggak pernah salah alamat...
ngga pernah salah waktunya...
Yang Atas pasti Yang Maha Tahu
apa yang terbaik buat Silfana.
Rejeki itu akan datang...
hanya untuk mereka yang memang meminta,
dan bekerja keras untuk itu.
Kita belajar sama-sama ya Silfana.
Kita saling colek untuk ngingetin.
Kita melihat ke atas,
ke para Diamond yang sudah "enak" itu ;-)
sambil...
kita juga tetap melihat kedepan dan kebawah..
dan berdoa bahwa apa yang kita lakukan sekarang
akan selalu mendapatkan kemudahan dariNya. Amiin.
----
Nadia Meutia
Co Founder dBC Network
Sabtu, 19 November 2011
Surat Untuk Ayah - 2
aku tahu.. seandainya aku menjerit, berteriak pada langit sampai suaraku habis pun, langit tak kan mendengar, Tuhan tak kan mengembalikan waktu, Tuhan tak kan mengembalikan Ayahku..
***
kali ini aku menulis tentang Ayah lagi..
Jika aku rindu Ayah, aku akan menulis di sini..
Ayah..
di kampung kita lagi musim durian, musim rambutan..
aku tahu Ayah suka sekali durian dan rambutan..
sudahkah Ayah menyicipi durian dari kebun kakek? atau rambutan dari rumah ibu?
enak sekali, yah..
enak sekali, yah..
ayah..
maaf tadi malam aku membuka Black Berrymu.
sebelumnya, saat Ayah masih ada di sini, aku tak pernah berani menyentuh barang pribadi Ayah.
kali ini, saat Ayah telah ada di sana pun, rasanya canggung sekali saat menggenggam dan menekan BB Ayah..
ayah..
semalam di BB mu aku lihat ada email masuk dari sebuah Bank. aku bilang ke mama, setelah ku telepon pihak bank, Alhamdulillah tak ada masalah, tak ada yang harus di bayar. Bahkan Bank tersebut yang harus bayar ke kami. Sisa uangmu, tabunganmu, akan kami gunakan untuk bertahan hidup..
ayah..
melihat setiap sudut rumah, mengingatkan ku padamu..
rumah yang kau bangun dengan keringat, usaha dan doa..
sedih rasanya kalau harus di tinggalkan..
ayah, terasa sekali kehilanganmu..
menyadari bahwa hidup kami telah berubah sejak detik pertama kau dipanggil Allah..
Ayah yang dulu dihormati, disegani, dijadikan teladan, kini hanya tinggal nama dan kenangan..
dan kami yang Ayah tinggalkan harus tetap melanjutkan hidup tanpa Ayah..
mencoba beradaptasi dengan segala perubahan hidup..
ayah, aku merasa sebagai anak aku belum cukup berbakti..
banyak hal yang telah aku lakukan yang sangat mungkin pernah membuat Ayah tersakiti..
banyak sekali kekhilafanku pada Ayah..
ku mohon Ayah maafkan..
ayah, sebagai yang tertua aku ingin menjadi sepertimu..
membiayai adik-adik hingga menyelesaikan perguruan tinggi,
membimbing adik-adik hingga menjadi orang yang sukses,
seperti yang Ayah lakukan kepada adik-adik Ayah ketika kakek dan nenek sudah tiada lagi..
ayah, semua yang telah kami nikmati selama ini merupakan hasil dari semangatmu, perjuanganmu, belas kasihmu, kebaikanmu, kedermawananmu, dan ketulusan hatimu..
tak mampu kami membalas, biar Tuhan yang membalas semuanya..
yang dapat kami lakukan hanyalah berdoa..
semoga Tuhan menyejukkanmu dengan air surga, menyamankanmu di sana..
with love,
Silfana :)
Senin, 14 November 2011
Surat Untuk Ayah
Ayah, dimanapun Ayah berada, Ipa harap Ayah baca postingan di blog Ipa ini. Seperti yang biasa Ayah lakukan ketika Ayah masih ada di sini..
Ayah, pagi ini terasa sangat berbeda dari pagi-pagi sebelumnya. Berat. Itu yang mungkin kami semua rasakan.
Ayah, pagi ini kami pergi, meninggalkanmu. Ipa yang biasanya sok cool, sok kuat, sok tegar, kali ini tak mampu membendung semuanya. Ipa tahu, hal ini pasti akan terjadi. Berat rasanya meninggalkan Ayah di sini. Mengingat bahwa sebelumnya kita selalu pulang kampung bersama dalam suka cita, dan kembali ke Banda Aceh, rumah kita juga dalam keadaan suka cita, serta berbagai candaan kita lontarkan di dalam mobil.
Ayah, keberangkatan kali ini rasanya beda..
Sebelum berangkat kami menyempatkan diri mengunjungi pusaramu, tempat peristirahatanmu, rumahmu yang baru..
Apa kabar Ayah di sana? Nyaman? Kuharap begitu. Semoga tempat tidur Ayah di sana lebih empuk dari pada tempat tidur yang biasa Ayah gunakan di rumah..
Ayah, pagi ini kami akan berangkat, melanjutkan hidup tanpamu. Sungguh, kami merindukanmu, Ayah. Berharap Ayah bisa ikut bersama kami, duduk di kursi depan dan memutar mp3 yang ada di mobil dengan lagu-lagu kesukaan Ayah, seperti yang biasa Ayah lakukan.
Ayah, Ipa ingat, setiap kali pergi kuliah atau mau kemana saja, selalu berpamitan dengan Ayah, menciumi tangan Ayah, dan mengucapkan salam. Tapi kali ini, ingin sekali rasanya menciumi tangan Ayah seperti biasa, memandangi punggung tangan Ayah yang timbul urat-uratnya, menandakan bahwa Ayah tak semuda dulu lagi.
Ayah, maaf kali ini tak mampu mencium tanganmu seperti biasa, hanya mampu memberikan Al Fatihah dan beberapa doa untuk Ayah sambil menangis sesunggukan. Maaf Ayah, kali ini Ipa menangis..
Ayah, Ipa janji, sejauh apapun Ipa pergi, ke ujung dunia sekalipun, pasti akan kembali ke kampung, menjenguk Ayah. Jika nanti Ipa sudah punya anak, akan Ipa bawa cucu Ayah juga, akan Ipa ceritakan ke cucu Ayah nanti, bahwa ia memiliki kakek yang hebat, kakek yang luar biasa.
Ayah, perpisahan kali ini sungguh tidak pernah kami inginkan. Kami dilepas dengan air mata. Sebelum berangkat, bersalaman dengan yang lain pun dengan air mata. Orang yang biasanya kami lihat tegar, tadi tampak menangis sesunggukan.
Ayah, saat tiba di rumah pun suasananya berbeda. Biasanya dulu jika sudah sampai di rumah, rasanya lega karena telah melewati perjalanan jauh yang melelahkan, kemudian kita melihat keadaan ikan-ikan piaraan kita, apakah sehat atau ada yang mati setelah ditinggalkan.
Kali ini, Ayah, suasananya berbeda. Ketika pintu rumah dibuka, tubuh kami lemas. Terduduk di ruang tamu, kami semua menangis. Setiap sudut di rumah mengingatkan kami pada Ayah. Cukup lama kami semua menangis. Melihat kursi yang biasa Ayah gunakan, teringat dulu Ayah sering sekali duduk di kursi itu, terbayang suara Ayah memanggil namaku. Melihat ke arah TV, teringat acara apa yang biasa Ayah tonton di hari libur, teringat acara-acara TV yang biasa kita tonton bersama, acara kesukaan Ayah, dan lain-lain. Melihat ke arah meja makan, teringat setiap kali makan, Ayah selalu menyuruh kami untuk memakan sayur-sayuran yang telah Mama masak.
Ayah, kami tidak tahu apa yang akan terjadi pada kami di masa yang akan datang. Kepergian Ayah begitu mendadak, namun kami ikhlas, yah, walau sebenarnya kami ingin bersama Ayah lebih lama lagi, tapi ternyata Tuhan berkehendak lain. Kami ikhlas, sungguh.
Ayah, selain kami, salah satu yang paling terpukul adalah Mama. Ibarat pohon, saat Ayah masih ada, Mama bagaikan sebuah pohon yang tinggi, rimbun dan berbuah lezat. Namun kini, Mama seperti pohon setengah kering yang hanya memiliki sedikit daun.
Sekarang kami hanya punya Mama. Walaupun Ayah sudah ada di sana, tapi kami yakin semangat Ayah akan tetap hidup bersama kami. Akan kami lanjutkan apa yang menjadi keinginan Ayah dulunya. Kami berjanji akan membuat Ayah bangga memiliki kami, anak-anak Ayah. Walaupun pada saat yang membanggakan tersebut Ayah tidak ada bersama kami, tidak ikut mengabadikannya bersama kami dalam berbagai jepretan kamera, namun kami percaya Ayah akan tersenyum dengan bangga melihat keberhasilan kami dari sana..
Ayah, sungguh kami tidak tahu apa yang menjadi rencana Tuhan terhadap kami selanjutnya. Yang kami tahu adalah Allah yang memberi penyakit, Allah pula yang menyembuhkan; Allah yang memberi kesedihan, Allah pula lah yang akan memberi kebahagiaan.
Fa'inna ma'al ushri yusraa, inna ma'al ushri yushra : Setelah kesulitan pasti ada kemudahan, sungguh setelah kesulitan pasti ada kemudahan. Ditekankan dua kali dalam surat Al-Insyirah. Sungguh, janji Allah itu pasti..
Dari anakmu yang mencintaimu,
Silfana Amalia Nasri binti alm. Fadhli Nasri
Langganan:
Postingan (Atom)