9 Agustus 2015
2:14 a.m.
Dear AF,
Jika suatu saat nanti kamu membaca tulisan ini, aku ingin kamu tahu tentang hal-hal yang mungkin belum kusampaikan padamu.. Hal-hal yang sebenarnya ingin kusampaikan langsung padamu seandainya saja kita punya lebih banyak waktu untuk bersama.
Dear AF, kau pasti tahu perasaanku padamu. Sudah ku sampaikan padamu beberapa kali, sudah beberapa kali juga kau tanyakan padaku, dan sudah beberapa kali pula aku sampaikan bahwa itu kamu, kamu, dan kamu. Kau anggap aku bercanda, main-main. Padahal, mana pernah aku main-main dengan yang namanya perasaan? Bagiku, urusan hati bukanlah urusan yang main-main.
Ketika aku mengatakan bahwa aku menyukaimu, kau bilang kau juga menyukaiku, hanya saja saat ini waktunya sedang tak tepat. Waktu. Saat itu waktulah yang menjadi tanda tanya terbesar dalam kepalaku. Ada apa dengan waktu? Ada apa dengan mencintaimu? Namun kini seiring berjalannya waktu kini aku mengerti..
Dear AF, ingatkah kau malam itu? Makan malam yang kemudian dilanjutkan dengan karaoke.. Mulai dari lagu Evanescene, Brian Adam, Bruno Mars, Avril Lavigne, Ada Band, Nidji, Boyzone, dan kemudian ditutup dengan lagu Westlife - More Than Words.. Aku masih ingat malam itu, saat kita menyanyikan lagu-lagu romantis, saat aku sadar kau yang saat itu duduk di sebelahku sedang menatapku dan tersenyum. Aku saat itu hanya membalas senyumanmu sambil bernyanyi dan menatap ke layar TV, pura-pura melihat lirik lagu yang sebenarnya sudah kuhafal. Tahukah kamu? Kamu selalu punya tatapan yang mampu meluluhkanku.. Dan aku, saat itu pura-pura untuk melihat ke arah yang lain sambil menata debaran jantungku yang tak karuan..
Sebelum kita keluar dari tempat karaoke, kau menunjukkanku sesuatu. Sesuatu yang kemudian kuketahui sebagai sumber dari kegelisahanmu selama ini.. sesuatu yang menyebabkan kita selama ini tak bisa bersama. Kau menjelaskan alasan-alasanmu. Aku mengerti. Aku sangat berterima kasih atas kejujuranmu malam itu.
Dear AF..
Tahukah kamu, malam itu aku merasa menjadi wanita yang paling beruntung di dunia ini. Betapa tidak, ternyata orang yang selama ini kucintai, juga memiliki perasaan yang sama terhadapku. Mencintai dan dicintai - bukankah itu merupakan hal yang paling membahagiakan di dunia ini?
Tapi malam itu, aku juga merasa menjadi wanita yang paling menyedihkan di dunia ini ketika kau menyuruhku untuk mencari lelaki lain, menikah dan berbahagia dengannya. Kau katakan, seandainya saja kau bisa, mungkin sudah sejak dulu kita bersama. Mencintai, dicintai, tapi tak dipilih.. menyedihkan, bukan?
Dear AF..
Bagaimana aku bisa berbahagia dengan lelaki lain, jika jawaban dari kebahagiaan itu adalah kamu? Aku bukan wanita yang bisa dengan mudah jatuh cinta dengan orang lain. Selama setahun lebih ini, dalam ketidakjelasan kita ini, hanya kamu, kamu, dan kamu yang ada dalam pikiranku dan hatiku. Jangan kau pikir aku tak pernah mencoba. Aku pernah beberapa kali mencoba untuk move on darimu, pernah beberapa kali dekat dengan beberapa pria, namun aku selalu gagal, gagal, dan gagal. Aku tak bisa membohongi diriku sendiri dengan berpura-pura memiliki rasa dengan orang lain, sementara seluruh hatiku telah terpaut padamu.
Dear AF,
Jika kau bertanya kenapa aku mencintaimu, entahlah.. aku pun tak tahu alasannya. Aku tak pernah mencintai seseorang sedalam ini. Kita telah saling mengenal sejak kita masih kecil, sejak kita belum mengerti apa itu cinta, apa itu memiliki rasa.. Yang aku tahu, saat ini aku mencintaimu. Aku tahu kebaikan-kebaikanmu. Aku juga tahu jelek-jeleknya kamu, norak-noraknya kamu.. tapi aku tetap suka. Bagiku, kau adalah sosok tanpa cela. Aku mencintaimu tanpa aku tahu mengapa..Bukankah cinta yang tulus itu adalah cinta yang tanpa alasan?
Dear AF,
Malam itu, aku berharap waktu berjalan lebih lambat. Aku belum ingin pulang. Aku ingin lebih lama bersamamu. Aku tahu kita tidak pernah bisa memastikan kapan kita akan bertemu lagi. Entah esok, lusa, minggu depan, bulan depan, atau mungkin berbulan-bulan kemudian. Aku ingin lebih lama bersamamu, walaupun saat itu angin malam lebih dingin dari biasanya. Aku ingin sekali memelukmu, namun hatiku begitu kacau.. begitu banyak rasa yang bergemuruh di hati dan tanya yang bersahut-sahutan dalam kepalaku. Dan ketika perjalanan kita berakhir di depan pagar rumahku, aku berharap ini bukanlah yang terakhir kalinya.
Sesampainya aku di kamar, aku membeku selama lebih dari 30 menit. Setelah tersadar, langsung aku berwudhu, menunaikan beberapa rakaat sembari ingin mengadu kepada-Nya yang telah menciptakan rasa ini. Saat itu, aku menangis sejadi-jadinya, segila-gilanya.. Tuhan, mengapa ini begitu kejam? Mengapa di saat aku tahu ternyata selama ini ia memiliki perasaan yang sama denganku, di saat itu pula ia mau aku melepaskannya, melupakannya.. Tuhan, Kau pasti tahu lah betapa aku mencintainya. Kau pasti tahu tentang nama yang selalu ku selipkan dalam setiap munajatku pada-Mu, dalam setiap malam-malamku.. Si pemilik nama yang selalu kumohonkan penjagaan-Mu atas kesehatannya, keselamatannya, dan kebahagiaannya setiap kali aku merindukannya. Terkadang dia memang menyebalkan, namun itu tidak sedikitpun mengurangi perasaanku padanya. Aku tidak pernyah mencintai lelaki manapun sedalam ini, Tuhan.. Aku cuma mau dia.. cuma dia!
Malam itu, aku menangis sampai dadaku sesak dan kedua mataku sembab. Dan setelah itu, kau kembali berubah menjadi sosok yang menyebalkan seperti biasanya.
Dear AF,
Ingatkah pagi itu, perjumpaan kedua kita setelah malam itu..Kau berbaring, kepalamu berada di atas pahaku, aku membelai rambutmu, dan kau memejamkan matamu.. Tak lama kemudian, ada kepalaku yang bersandar di bahumu, ada kau yang membelai rambutku, ada kita yang tak berjarak, ada kita yang saling menatap, ada kita yang saling memperjelas perasaan kita masing-masing. Ada kehangatan, keindahan, dan kebahagiaan yang tak mampu kudefinisikan.
Namun kemudian, kau memintaku untuk melepaskanmu, melupakanmu.. Aku akan pergi melanjutkan studi dan akan kembali 2 tahun kemudian, dan kau akan melakukan sesuatu selama 8-10 tahun. Kau tak mau aku menunggu, begitu katamu.
"Aku tak bisa! Aku tak bisa meninggalkanmu!"
"Kamu pasti bisa, Sil! Nanti kamu akan bertemu dengan orang-orang baru. Kau pasti bisa melupakan aku. Pasti bisa!" begitu kau coba meyakinkanku.
"Pasti bisa, Sil. Kamu pasti bisa. Tahun ini usia kita 24 tahun. 10 tahun lagi kita akan 34 tahun. Aku tak mungkin membiarkanmu menunggu selama itu. Aku tunggu undangan dari kamu, ya!"
Dadaku serasa ditusuk ratusan sembilu. Menikah dengan orang lain? Tidak, tidak pernah terpikir olehku. Ini bukan hanya tentang tidak bisa move on darimu, tapi juga tentang aku yang TIDAK MAU move on darimu. Aku cuma mau kamu. AKU CUMA MAU KAMU! CUMA MAU SAMA KAMU!
"Apakah ada kemungkinan untuk kita menikah?" tanyaku.
"Kita bisa saja menikah, tapi, apa kamu sanggup menjalani hidup bersamaku? Sekalipun kita menikah, kita akan jarang bertemu. Nanti kalau kita punya anak, tak terurus. Apakah kamu sanggup?" tanyamu.
Aku mengangguk. Aku sanggup.
"Tidak. Ini berat. Kamu tidak akan sanggup, Sil," ujarmu.
"AF, kenapa kita tidak menikah saja?" tanyaku.
"Seandainya aku bisa, sudah dari dulu aku melamarmu, Sil." jawabmu.
"Tapi aku maunya sama kamu, AF.."
"Aku nunggu undangan dari kamu aja, ya, Sil.. Atau kamu mau nunggu undangan dari aku?" tanyamu.
Aku tertegun. Terkejut.
"Jika suatu saat nanti kamu mendapati undanganku, ada namaku dengan wanita lain yang berasal dari daerah lain, ketahuilah, itu bukan atas kemauanku. Itu adalah bagian dari sesuatu."
Aku menatapmu dalam-dalam. Aku tak rela jika kita harus berakhir seperti itu. Kau terlihat menahan diri agar air matamu tak tumpah di hadapanku. Begitupun aku, berusaha sekuat tenaga agar tidak menangis di hadapanmu.
Dear AF,
Mengapa kita mencintai, lalu kemudian melepaskan?
Mengapa kita menyerah sebelum mencoba?
Dear AF..
Aku mengerti bahwa kita mungkin tidak seperti pasangan-pasangan lainnya..
Tapi sebenarnya, tak banyak pintaku
Aku hanya ingin jadi perempuan yang berfoto selfie denganmu sambil memamerkan buku nikah yang baru saja kita tandatangani bersama..
Aku ingin jadi perempuan yang halal kau kecupi keningnya, bibirnya..
Aku ingin jadi perempuan yang berbaring di ranjang yang sama denganmu, membangunkanmu di pagi hari, menyiapkan sarapan, membuatkan bekal untukmu..
Aku ingin jadi perempuan yang mendengarkan semua yang kaulakukan sepanjang hari. Bagaimana pekerjaanmu hari ini, apa saja kebahagiaan-kebahagiaan yang kau alami, apakah ada yang mengesalkanmu, apa yang membuatmu tersenyum hari ini.
Aku ingin jadi perempuan yang berbicara kepadamu tentang apa saja..
yang akan selalu menggenggam erat tanganmu hingga tangan itu menua..
yang akan selalu menatap matamu dengan binar-binar cinta, dan kelak menjadi perempuan yang menghapus air matamu..
Aku ingin jadi perempuan yang mencintaimu di kala sulit.
Menemanimu saat sakit.
Bertahan saat kau jatuh.
Menenangkanmu saat kau bersedih.
Bersabar saat kau marah.
Setia saat kita terpisah jarak.
Aku ingin jadi perempuan yang akan selalu menerima kejelekanmu.
Menghapus air matamu yang terus-terusan jatuh.
Tertawa di saat leluconmu mulai membosankan.
Memelukmu walau tubuhmu tak sekuat dulu lagi.
Membopongmu jika kau sudah tak kuat berjalan.
Bicara keras saat kau sudah tak mampu mendengar..
Dear AF..
Jika kau membaca tulisan ini
aku ingin kau tahu bahwa
Aku mencintaimu BUKAN karena apa yang kau miliki saat ini..
Aku bukanlah wanita yang sempurna..
Begitu juga denganmu
Namun bagiku, kau adalah ketidaksempurnaan yang selalu sempurna di mataku.
Dear AF,
Mengapa tak kita coba terlebih dahulu?
Dari perempuan yang tidak akan pernah menyerah,
S. A. N.
Sabtu, 08 Agustus 2015
Kamis, 28 Mei 2015
Aku Ingin Dia Hidup Lebih Lama
“Sil, lagi dimana?”
BBM darinya di pagi menjelang siang ini tiba-tiba masuk ke
HP ku. Tumben, pikirku.
“Lagi di rumah Dil. Kenapa?” jawabku.
Aku ingat sekitar seminggu yang lalu, sebelum berangkat ke
Kuala Lumpur, ia menanyakan keberadaanku. Saat kutanyakan ada apa, ia menjawab “mau
ketemu untuk yang terakhir kali.” Saat itu aku sedang memberikan psikotest di
sebuah biro psikologi, jadi aku tak bisa menemuinya.
Sehabis membalas pesan BBM nya, aku dapat telepon dari Kak
Norma yang membicarakan tentang rencana mengasistensi teman-teman GEMPUR dalam
berkegiatan bersama pengungsi Rohingya. Aku yang waktu itu baru selesai mandi,
masih memakai handuk, tiba-tiba dipanggil oleh adikku Farras. “Ada kawan kakak
di bawah,” begitu katanya.
Segera aku berkemas, menemui siapa yang Farras bilang sedang
menungguiku di bawah. Dengan pakaian seadanya, aku temui dia di bawah. Ternyata
dia. Ia berdiri di tiang dekat teras rumahku, mengenakan kemeja lengan panjang
hitam, celana panjang berbahan jeans dengan warna biru tua, kaca mata
berbingkai hitam, dan rambutnya yang masih tetap gondrong, tebal dan indah itu.
“Eh, qe (kamu) Dil. Udah lama? Masuk lah,” ujarku.
“Gak usah Sil, di sini aja,” kemudian ia langsung duduk di tangga
teras rumahku. Aku pun duduk di sebelahnya.
“Apa kabar?” tanyaku memulai percakapan. Ia hanya tersenyum.
Aku bisa melihat matanya dari balik kaca mata berlensa tebal yang dikenakannya.
Oh!
“Kayak mana pengungsi Rohingya, Sil?” ia bertanya padaku,
dan aku pun menceritakan pengalamanku selama di sana.
Belum selesai aku bercerita, dia berkata padaku “Sil, keluar
yok?”.
Kami pun sepakat untuk keluar. Setelah menungguku berkemas
sekitar 5 menit, kami memutuskan untuk pergi ke suatu tempat makan yang tidak terlalu
jauh dari rumahku. Dia yang menentukan tempat. Alasannya, ia ngidam salah satu menu yang ada di
tempat itu. Selama di KL, ia merasa lidahnya tidak cocok dengan makanan di
sana.
“Sil, ada asuransi kan?” tanyanya.
“Ada. Kenapa emangnya?”
“Aku mau balap nih. Hahaha,” jawabnya. Duh, dasar anak itu,
selalu aja kalo bawa motor balap-balap. Aku duduk di belakangnya, dan
meletakkan tanganku di punggungnya.
Setelah sampai di sana, kami melanjutkan perbincangan yang
tadi sempat terputus. Kami duduk berhadapan. Setelah menceritakan tentang
keadaan pengungsi Rohingya, aku bertanya mengenai pengalamannya selama di KL.
“Aku di sana bukan jalan-jalan, Sil. Aku pergi berobat. Dua orang
kawan aku itu cuma temenin aku aja,” jawabnya.
“Berobat? Sakit apa qe?” tanyaku. Kemudian ia menceritakan
tentang penyakitnya. Pengentalan darah, begitu katanya. Ia pernah menceritakan
tentang penyakitnya ini kepadaku sekitar beberapa bulan yang lalu. Ia telah
menderita penyakit ini sejak beberapa tahun yang lalu.
“Jadi kenapa waktu itu, sebelum berangkat qe bilang mau
ketemu aku untuk yang terakhir kalinya?” tanyaku.
“Aku kira aku gak bisa balik lagi ke sini. Takut kali aku.”
“Terus sampai di sana, aku ketemu sama ayahnya teman aku. Dia
lah yang semangatin aku. Cara dia ngomong mirip sama almarhum ayah aku,”
tambahnya lagi.
Aku bisa lihat binar-binar kesedihan itu dari matanya dan
raut wajahnya. Aku tidak mau dia pergi. Aku tidak mau dia meninggal.
Ku tatap matanya selama selama beberapa detik. “Aku gak mau
qe meninggal, Dil,” ujarku.
“Karna aku gak mau mati, lah, makanya aku berobat ke sana,”
jawabnya sambil tertawa. Seketika ada sedikit rasa bahagia yang muncul saat
melihatnya tertawa.
“Gimana Sil,
udah berhasil move on?” tanyanya yang
sekaligus memecah tawaku.
Seketika aku teringat sekitar 1-2 bulan yang lalu, saat aku
mengatakan bahwa aku ingin move on, dia
adalah orang yang paling banyak menanyaiku tentang kenapa aku mau move on, aku mau move on dari siapa, dll. Sepertinya dia lupa ingatan bahwa dia tau
perasaanku terhadapnya, atau mungkin hanya sekedar ingin diyakinkan saja. Entahlah.
Ketika aku bilang bahwa aku mau move on dari
dia, dia bilang aku bercanda. Setelah aku katakan “Dil, mana pernah aku
bercanda sama urusan yang kayak gini,” dia malah diam. Tengah malamnya, sebelum
tidur, ia menelponku selama 4 menit 27 detik, hanya untuk memastikan bahwa aku
baik-baik saja, dan kemudian keesokan harinya ia tetap menjadi seperti biasa –
sosok yang menyebalkan.
Dan sejak itulah aku memilih menjadi sosok yang juga
menyebalkan untuknya. Aku mulai ketus, mulai suka mengejeknya. Intinya, aku
bertingkah sebagaimana ia memperlakukanku. Mungkin
dia memang tipikal orang yang gak mempan kalo dibaik-baikin, begitu
pikirku.
Setelah selesai makan, kami memutuskan untuk pulang. Dalam perjalanan
pulang, tepat di depan lorong rumahnya, tiba-tiba ban motornya bocor. Akhirnya ia
menyuruhku masuk ke rumahnya, sementara ia pergi ke tempat tambal ban di dekat
rumahnya. Aku hanya duduk di ruang tamu rumahnya kira-kira sekitar 15-20 menit.
Kemudian ia kembali, mengambil laptop di kamarnya, dan kemudian kami pun
melanjutkan perjalanan.
Di perjalan pulang, aku
mengomentari rambutnya yang panjang alias gondrong. “Ikatin lah, Sil,”
pintanya. Kemudian ku kucir rambutnya dengan jari-jemariku, namun karena tidak
ada karet, jadi kulepaskan lagi rambutnya. Tak lama kemudian kami sampai ke
rumahku. Setelah saling menuturkan terima kasih, kami pun berpisah.
Pertemuan dengannya hari ini lagi-lagi membuatku gagal move on!
Sebenarnya aku sudah dari dulu berusaha untuk move on
darinya, namun selalu gagal. Ada saja hal-hal yang membuatku akhirnya kembali
lagi padanya. Aku tipikal orang yang sulit jatuh cinta, namun sekali aku
mencintai seseorang, aku akan mencintainya secara mendalam.
Sore ini aku memikirkan kembali tentang perasaan itu:
mengapa aku bisa mencintai seseorang sesantai ini? Tak ada rasa menggebu-gebu
sedikitpun.
Kemudian aku menyadari bahwa rasa ini adalah rasa sayang
yang benar-benar sayang. Aku hanya ingin dia selalu bahagia, aku ingin
membantunya, aku ingin dia mendapatkan apa yang dicita-citakannya. Aku tahu
banyak orang yang jika ia mencintai seseorang, maka ia ingin sekali
memilikinya. Memang bahagia sekali rasanya jika orang yang kita cintai juga
mencintai kita, dan lebih membahagiakan lagi jika cinta itu terpaut dalam suatu
ikatan. Aku mengerti akan hal ini, namun aku tidak terlalu berharap. Orang bilang
kekecewaan selalu datang akibat dari harapan yang tak kesampaian. Aku mengerti.
Bahkan jika suatu saat nanti ia lebih memilih orang lain pun, aku akan tetap
berusaha untuk berdamai dengan diri sendiri, seperti yang selama ini aku lakukan. Jika yang ia inginkan adalah wanita berparas cantik dan rupawan, apalah
aku ini yang hanya bermodalkan ‘baik’ semata?
Mendengar ceritanya tentang penyakitnya membuatku agak
sedih. Ia sering bersikap seolah-olah hidupnya tak lama lagi. Ia pernah
mengatakan padaku bahwa penyakitnya ini membuatnya takut berkomitmen dengan
perempuan. Tidak. Tidak. Aku tidak ingin dia menyerah. Aku ingin ia hidup
selama mungkin. Aku ingin melihatnya bahagia lebih lama lagi. Aku ingin dia
hidup lebih lama. Aku ingin melihatnya menikah, meskipun itu bukan denganku. Aku ingin dia bahagia. Bahagia lebih
lama lagi.
Hari ini ketika bertemu langsung dengannya, aku lupa
mengucapkan selamat ulang tahun secara langsung kepadanya. Tanggal 20 Mei 2015
yang lalu ia genap berusia 24 tahun. Ah, selamat ulang tahun untuknya, yang
mungkin tidak akan pernah membaca tulisan ini. Semoga di tahun-tahun berikutnya
aku masih bisa terus mengucapkan selamat ulang tahun untuknya setiap tanggal 20
Mei.
Tuhan, aku ingin dia hidup lebih lama lagi..
Senin, 30 Maret 2015
ikhlas dan bangkit lagi
Aku tak tahu harus memulai cerita ini dari mana..
Jika harus menulis semua cerita tentangmu, aku tak tahu harus berapa banyak waktu yang kuhabiskan untuk menuliskan semua bagiannya.
Yang jelas, ini tentangmu.. pria dengan senyuman terindah, mata terindah, dan rambut terindah yang pernah aku lihat di muka bumi ini, dan kemudian dipadukan dengan perhatian, kepedulian, dan kecerdasan yang luar biasa. Pria yang membuatku mengagumi betapa hebatnya Tuhan yang telah menciptakanmu dengan begitu sempurnanya.
Ini tentang kamu;
Pria yang dulu suaranya begitu candu; selalu kudengar sebelum tidur.
Pria yang manisnya lebih manis dari Cornetto Red Velvet dan lebih lembut dari sebatang cokelat Cadburry yang lumer di dalam rongga mulut.
Dan pria yang punya personality seperti satu pan pizza; terdiri dari berbagai macam variasi, berbagai rasa, namun aku tak akan pernah bosan untuk menikmatinya.
Dear kamu, pria yang aku maksud..
Jika kamu membaca ini, aku hanya ingin kamu tahu..
Aku telah berjanji kepada diriku untuk tidak lagi menulis namamu di buku harianku sejak februari yang lalu.
Dan aku berusaha untuk ikhlas.. bahwa walaupun kita pernah saling suka, tapi tidak berarti kita bisa bersama.
aku sedang belajar untuk ikhlas dan berusaha untuk move on.
tapi pagi ini..
pertemuan denganmu membuatku agak goyah
kau masih memiliki tatapan itu..
tatapan yang dulu pernah menghipnotisku
dan membuatku buta akan laki-laki lain selain kamu.
kita tak banyak bicara
aku tahu kau sedang sibuk
tapi hanya dengan melihatmu saja aku sudah senang
setidaknya kau masih dalam keadaan baik-baik saja.
kita tidak banyak bicara
namun kehangatan tatapan dan senyumanmu,
serta caramu memandangku
mengisyaratkan aku satu hal;
kau masih peduli padaku.
tapi aku telah mengikhlaskan perasaan ini.
sungguh, aku sudah ikhlas.
hanya saja,
aku kesulitan untuk bangkit lagi dan mencari yang lain.
Banda Aceh,
Di penghujung bulan Maret 2015
Sabtu, 17 Januari 2015
Cinta, Logika, Doa.
Pernahkah kau mencintai seseorang sampai-sampai kau lupa tentang dirimu sendiri?
Setiap hari, siang dan malam hanya pikiran tentangnya yang ada di dalam kepalamu, hingga kau tak bisa berkonsentrasi, tak bisa tenang jika belum mendapat kabar darinya.
Pernahkah kau mencintai seseorang sehingga membuatmu merasa dirimu ini bukanlah dirimu yang biasa?
Kau yang biasanya cuek dan tak peduli, tiba-tiba berubah menjadi seseorang yang selalu mencari alasan agar tetap bisa berhubungan dengan ia yang kau cinta.
Pernahkah kau mencintai seseorang sampai-sampai kau merasa bahwa kau yang biasanya berbicara lantang di hadapan banyak orang,
Tiba-tiba harus mengendalikan gemuruh yang ada di dadamu, dan menjadi canggung ketika berbicara dengan dia yang kau cinta.
Pernahkah?
Aku pernah. Saat ini aku sedang mengalami itu.
Aku sedang mencintai seseorang yang aku tak tahu sejak kapan tepatnya rasa itu mulai muncul.
Aku tak tahu sejak kapan aku menjadi candu olehnya, selalu mencari-cari alasan agar dapat terus berkomunikasi dengannya, selalu ingin berada di dekatnya, selalu ingin dia, dia, dan dia,
Aku menjadi buta waktu dan kehilangan arah jika itu tentangnya.
Biasanya, aku tidak mudah untuk jatuh dalam sesuatu yang dinamakan 'cinta'.
Bahkan dengan kekasih-kekasihku sebelumnya, bukan aku yang lebih dahulu mencintai mereka.
Aku adalah orang yang mereka dambakan, dan aku akan melihat hal-hal baik dalam diri mereka sebelum aku memilih mereka. Dan setelah itu barulah cinta timbul dari kebiasaan dan kebersamaan. Dulu, bagiku begitulah cinta yang seharusnya.
Aku adalah orang yang selalu mengedepankan logika,
Dalam urusan cinta pun, bagiku selalu harus ada alasan logis untuk menyukai seseorang.
Entah karena berlandaskan kekaguman, atau kelebihan-kelebihan lain yang menimbulkan ketertarikan.
Tapi dengannya, logika ku seolah mati.
Aku menyukai segala hal tentangnya
Bahkan ketika aku tau ketidaksempurnaannya pun aku tetap suka.
Ketidaksempurnaannya adalah sempurna bagiku.
Aku menyayanginya secara utuh. Apa adanya.
Dengannya, aku menjadi seseorang yang berbeda..
Dengannya, aku bisa menjadi diriku sendiri. Aku bisa bebas menceritakan apapun, termasuk hal-hal yang tak mungkin ku ceritakan pada orang lain.
Dengannya, aku merasa nyaman. Tak pernah senyaman ini.
Ia adalah candu sebenar-benarnya candu bagiku.
Aku suka menatap matanya dari balik kacamatanya,
Aku suka melihat senyumannya dan lesung di sudut bawah bibirnya,
Aku selalu ingin membelai rambut hitam tebalnya,
Aku selalu ingin memeluk punggungnya,
Aku selalu ingin mendengar suaranya setiap hari,
Bagiku, segala hal yang ada padanya adalah keindahan.
Dia tak tahu
betapa hebatnya gemuruh dalam dada ini saat bersamanya
betapa senangnya aku saat ia bersikap manis padaku
betapa girangnya aku setiap habis berbicara dengannya di telepon
betapa aku ingin membekukan waktu setiap bersamanya
agar bisa lebih lama dengannya..
Dan aku..
Aku tak pernah menyukai orang segila ini.
Aku tergila-gila padanya
Sehingga di mataku tak ada pria lain yang lebih baik darinya.
Aku terlalu sibuk mencintainya
Sehingga tak punya waktu untuk jatuh cinta kepada yang lain.
Aku mencintainya sehingga aku merasa
Bahagianya adalah bahagiaku
Resahnya adalah resahku juga.
Aku selalu ingin menjadi teman dalam sepinya
Aku mencintainya tanpa aku tahu alasannya apa.
Aku percaya bahwa cinta yang sebenar-benarnya cinta adalah mencintai seseorang tanpa alasan, tanpa syarat..
Aku mencintainya bukan karena ketampanannya,
bukan karena kebaikannya,
bukan karena ia pandai atau berbakat,
bahkan bukan pula karena ia mencintaiku.
Aku mencintainya karena aku mencintainya.
Itu saja.
Tak ada alasan lain.
Aku mencintainya tanpa aku mengharapkannya untuk mencintaiku balik
Bahkan jika suatu saat nanti dia dengan yang lain,
Akan selalu ada ruang untuknya di dalam hati ini.
Mungkin aku bukanlah wanita paling sempurna di dalam hidupnya
Akan selalu ada wanita lain yang lebih cantik dan lebih menarik dariku.
Aku tak berharap ia akan memilihku
Aku hanya bisa mengadu pada Tuhanku yang Maha Kuasa
Tuhan tahu ada namanya dalam setiap munajatku..
Tapi aku percaya,
Tuhan tak pernah salah dalam memilih
Jika memang dia orangnya,
Akan selalu ada jalan
yang menuntunnya kembali padaku..
*P.S:
Jika kau membaca tulisan ini dan kau merasa ini adalah tentangmu,
Aku ingin kau tahu bahwa aku adalah wanita yang lidahnya selalu kelu
setiap ingin mengutarakan rasa ini padamu..
Setiap hari, siang dan malam hanya pikiran tentangnya yang ada di dalam kepalamu, hingga kau tak bisa berkonsentrasi, tak bisa tenang jika belum mendapat kabar darinya.
Pernahkah kau mencintai seseorang sehingga membuatmu merasa dirimu ini bukanlah dirimu yang biasa?
Kau yang biasanya cuek dan tak peduli, tiba-tiba berubah menjadi seseorang yang selalu mencari alasan agar tetap bisa berhubungan dengan ia yang kau cinta.
Pernahkah kau mencintai seseorang sampai-sampai kau merasa bahwa kau yang biasanya berbicara lantang di hadapan banyak orang,
Tiba-tiba harus mengendalikan gemuruh yang ada di dadamu, dan menjadi canggung ketika berbicara dengan dia yang kau cinta.
Pernahkah?
Aku pernah. Saat ini aku sedang mengalami itu.
Aku sedang mencintai seseorang yang aku tak tahu sejak kapan tepatnya rasa itu mulai muncul.
Aku tak tahu sejak kapan aku menjadi candu olehnya, selalu mencari-cari alasan agar dapat terus berkomunikasi dengannya, selalu ingin berada di dekatnya, selalu ingin dia, dia, dan dia,
Aku menjadi buta waktu dan kehilangan arah jika itu tentangnya.
Biasanya, aku tidak mudah untuk jatuh dalam sesuatu yang dinamakan 'cinta'.
Bahkan dengan kekasih-kekasihku sebelumnya, bukan aku yang lebih dahulu mencintai mereka.
Aku adalah orang yang mereka dambakan, dan aku akan melihat hal-hal baik dalam diri mereka sebelum aku memilih mereka. Dan setelah itu barulah cinta timbul dari kebiasaan dan kebersamaan. Dulu, bagiku begitulah cinta yang seharusnya.
Aku adalah orang yang selalu mengedepankan logika,
Dalam urusan cinta pun, bagiku selalu harus ada alasan logis untuk menyukai seseorang.
Entah karena berlandaskan kekaguman, atau kelebihan-kelebihan lain yang menimbulkan ketertarikan.
Tapi dengannya, logika ku seolah mati.
Aku menyukai segala hal tentangnya
Bahkan ketika aku tau ketidaksempurnaannya pun aku tetap suka.
Ketidaksempurnaannya adalah sempurna bagiku.
Aku menyayanginya secara utuh. Apa adanya.
Dengannya, aku menjadi seseorang yang berbeda..
Dengannya, aku bisa menjadi diriku sendiri. Aku bisa bebas menceritakan apapun, termasuk hal-hal yang tak mungkin ku ceritakan pada orang lain.
Dengannya, aku merasa nyaman. Tak pernah senyaman ini.
Ia adalah candu sebenar-benarnya candu bagiku.
Aku suka menatap matanya dari balik kacamatanya,
Aku suka melihat senyumannya dan lesung di sudut bawah bibirnya,
Aku selalu ingin membelai rambut hitam tebalnya,
Aku selalu ingin memeluk punggungnya,
Aku selalu ingin mendengar suaranya setiap hari,
Bagiku, segala hal yang ada padanya adalah keindahan.
Dia tak tahu
betapa hebatnya gemuruh dalam dada ini saat bersamanya
betapa senangnya aku saat ia bersikap manis padaku
betapa girangnya aku setiap habis berbicara dengannya di telepon
betapa aku ingin membekukan waktu setiap bersamanya
agar bisa lebih lama dengannya..
Dan aku..
Aku tak pernah menyukai orang segila ini.
Aku tergila-gila padanya
Sehingga di mataku tak ada pria lain yang lebih baik darinya.
Aku terlalu sibuk mencintainya
Sehingga tak punya waktu untuk jatuh cinta kepada yang lain.
Aku mencintainya sehingga aku merasa
Bahagianya adalah bahagiaku
Resahnya adalah resahku juga.
Aku selalu ingin menjadi teman dalam sepinya
Aku mencintainya tanpa aku tahu alasannya apa.
Aku percaya bahwa cinta yang sebenar-benarnya cinta adalah mencintai seseorang tanpa alasan, tanpa syarat..
Aku mencintainya bukan karena ketampanannya,
bukan karena kebaikannya,
bukan karena ia pandai atau berbakat,
bahkan bukan pula karena ia mencintaiku.
Aku mencintainya karena aku mencintainya.
Itu saja.
Tak ada alasan lain.
Aku mencintainya tanpa aku mengharapkannya untuk mencintaiku balik
Bahkan jika suatu saat nanti dia dengan yang lain,
Akan selalu ada ruang untuknya di dalam hati ini.
Mungkin aku bukanlah wanita paling sempurna di dalam hidupnya
Akan selalu ada wanita lain yang lebih cantik dan lebih menarik dariku.
Aku tak berharap ia akan memilihku
Aku hanya bisa mengadu pada Tuhanku yang Maha Kuasa
Tuhan tahu ada namanya dalam setiap munajatku..
Tapi aku percaya,
Tuhan tak pernah salah dalam memilih
Jika memang dia orangnya,
Akan selalu ada jalan
yang menuntunnya kembali padaku..
*P.S:
Jika kau membaca tulisan ini dan kau merasa ini adalah tentangmu,
Aku ingin kau tahu bahwa aku adalah wanita yang lidahnya selalu kelu
setiap ingin mengutarakan rasa ini padamu..
Now Playing: Glenn Fredly - Malaikat Juga Tahu
Senin, 29 Desember 2014
Tunggulah Aku Memantaskan Diri Untuk Menjadi Lelakimu
"Selamat Ulang tahun."
Begitulah isi pesan singkat yang masuk ke ponselku pada pukul 14.47 siang ini. Baru kubaca sekitar pukul 17.30 sore, saat kuhempaskan tubuh ke ranjang, setelah lelah seharian beraktivitas dan kurang tidur di malam sebelumnya.
"Terima kasih ya :D," jawabku singkat.
"Sisil lagi sibuk?" ia bertanya melalui sms.
"Enggak. Ada apa?"
"Aku telpon boleh?" tanyanya.
"Boleh."
Tak lama kemudian ponselku berbunyi.
"Hallo, assalammualaikum," sapaku.
"Walaikumsalam. Selamat ulang tahun, Sil." Ia mengucapkan selamat ulang tahun untukku. Aku masih mengenal suaranya, laki-laki yang sedang berbicara denganku ini.
"Makasi yaa. hehe.. kamu inget aja rupanya." aku mencoba berbasa-basi sedikit.
Kemudian aku dan laki-laki ini saling menanyakan kabar masing-masing. Sudah lama sekali aku tak mendengar kabarnya dan hampir tak pernah lagi aku melihat postingan terbaru di media sosialnya. Ternyata dia sudah selesai kuliah dan saat ini bekerja sebagai asisten lab di kampusnya.
Ia lalu menanyakan padaku perihal rencana melepas masa lajang. Jujur, aku masih belum memiliki rencana apapun soal itu. Namun pertanyaannya tersebut membuat pikiranku kembali lagi ke masa ketika pertama kali aku berkenalan dengannya.
Waktu itu, dua tahun yang lalu.. aku sedang berada di salah satu warung kopi di Banda Aceh. Sore itu, aku berencana pulang, namun hujan menghentikanku. Aku tak mungkin sendirian menunggu labi-labi yang lewat di depan warung kopi itu saat hujan sedang lebat-lebatnya. Jadi aku memutuskan untuk menunggu sebentar sampai hujan agak sedikit reda.
Sambil menunggu hujan reda, aku memutuskan untuk memainkan game yang ada di ponselku. 15 menit bermain game, tiba-tiba seseorang mengetuk mejaku.
"Heh, mentang-mentang udah ada BB sombong kali, ya.."
Kuangkat wajahku, melihat siapa yang tiba-tiba mengetuk mejaku. "Eh, Kiiiiiii!!! Aku pikir siapa lah!" Ternyata Kiki, teman lamaku.
"Itulah, udah ada hape baru, gak liat-liat orang lagi, ya! Mentang-mentang.. Sendirian aja?" tanyanya.
"Iya nih. Mau pulang, tapi hujan. Ya, bentar-bentar lagi lah, pulangnya. Eh, kalian duduk, lah." Aku menyodorkan dua kursi di depanku. Itu pertama kali aku bertemu denganmu yang saat itu sedang bersama Kiki. Kau saat itu menggunakan baju kaos berwarna biru, celana jeans, kaca mata besar berlensa tebal dengan bingkai berwarna hitam. Wajahmu orientalis, kulit putih, dengan sedikit bekas jerawat di pipi. Saat itu kau tidak banyak bicara, lebih banyak menunduk dan menyimak pembicaraanku dengan Kiki, sambil sesekali ikut tertawa jika kami membahas hal-hal lucu. Namun kemudian malamnya saat aku mengecek facebook ku, aku melihat kau mengirimkan permintaan pertemanan untukku dan meng-add BBM ku juga. Dari situ lah kisah kita dimulai...
Kau saat itu begitu pemalu. Sering aku mendapat notifikasi dari kau yang me-like postingan-postingan di facebook ku, tanpa pernah mengomentari apapun. Tapi kemudian aku tahu bahwa kau sering bertanya pada Kiki mengenaiku. Iseng, waktu itu aku coba menyapamu duluan melalui BBM, hingga kemudian berlanjut ke pembicaraan telepon.
Saat pertama kali berbicara denganmu, aku heran mengapa kau begitu pasif. "Ngomong sama aku ngebosenin, ya?" tanyaku pada waktu itu. Namun kemudian kau membantahnya. Kau bilang ini adalah kali pertama kau berbicara melalui telepon dengan seorang perempuan dan dengan durasi yang lumayan panjang. "Aku gugup kalau bicara dengan cewek, Sil. Maaf." begitu jawabmu.
"Ya ampun! Udah 21 tahun tapi masih takut ngobrol sama cewek? Helloooo.. Kamu gak boleh kayak gitu terus.. nanti kamu gak bisa dapetin cewek! Ayoo biasain dong bergaul sama cewek!"
"Ya udah, kalo kamu malu, kamu boleh biasain sama aku. Hahaha.. gak perlu malu-malu ah sama aku, ntar malah malu-maluin, lagi. Anggap aja aku ini sama kayak temen-temen cowok kamu yang lainnya." Aku menawarkan diri supaya kamu bisa percaya diri dalam bergaul dengan lawan jenis. Begitu saja pada awalnya.
Ternyata benar kata orang, cinta dapat tumbuh karena terbiasa. Setidaknya begitulah yang terjadi di antara kita berdua. Kau yang saat itu sudah terbiasa denganku, pada malam itu mengatakan ketertarikanmu padaku.
"Kenapa kamu bisa suka sama aku?" tanyaku penuh heran.
"Aku gak tau, Sil. Dari awal aku ketemu Sil, aku merasa Sil itu berbeda. Sil orang yang menyenangkan. Itu kesan pertama aku. Tapi semakin aku kenal Sil, semakin aku menyukai kepribadian Sil . Sil baik sama aku."
"Tapi, tapi kenapa aku? Aku ini enggak cantik, loh. Aku gak tinggi, gak langsing. Secara fisik, aku bukanlah cantik yang didefinisikan oleh kebanyakan laki-laki."
Kamu hanya diam.
"Kenapa aku? Kenapa gak perempuan lain?" tanyaku lagi.
"Karena aku gak punya alasan untuk suka sama perempuan lain selain Sil!"
Kali ini aku yang terdiam. Kita berdua larut dalam keheningan selama beberapa menit, bahkan aku bisa mendengar suara jangkrik yang berasal dari rawa-rawa di sebelah rumahku.
"Kenapa baru sekarang bilangnya, saat kita udah jauh gini?" Aku memecahkan keheningan dengan bertanya lagi. Jujur, waktu itu terlalu banyak 'kenapa, kenapa, dan kenapa' di dalam otak ku.
"Karena aku gak punya nyali untuk ngomong langsung di depan Sil! Seumur hidup, baru ini keberanian terbesar aku sama perempuan. Sama Sil."
Dan kemudian kita terdiam lagi..
"Dengar, Sil. Aku ngomong kayak gini bukan berarti aku minta Sisil untuk jadi pacar aku, bukan. Bukan. Aku cuma gak tahan aja untuk nahan perasaan ini. Semakin aku tahan, semakin susah aku kendaliin. Aku cuma bilang aja karena cuma Sisil satu-satunya teman perempuan yang akrab sama aku."
"Aku tau, aku bukan cowok idaman Sisil. Aku bukan aktivis, atau orang yang bisa Sisil ajak diskusi terkait masalah-masalah sosial yang Sisil pikirin. Aku gak ngerti tentang itu. Aku cuma ngerti tentang ilmu bumi, Sil. Aku ini laki-laki yang introvert banget, bukan tipe laki-laki humoris kayak yang Sisil suka." tambahnya.
"Aku juga sadar, Sisil gak mungkin suka sama aku.." kali ini nada suaranya agak melemah.
"Sebenarnya kamu laki-laki yang menarik, kok. Kamu gak kayak laki-laki lain yang caper dan sok asik. Kamu bener-bener apa adanya." Aku berusaha merespon pengakuannya.
"Aku suka Sil, tapi aku gak berani minta Sil jadi pacar aku. Sil layak untuk dapatin yang lebih baik dari aku." Entah kenapa aku jadi agak sedih saat dia berkata seperti ini.
"Tapi aku akan berusaha Sil, supaya bisa jadi laki-laki yang layak buat Sisil."
***
Kembali ke percakapan di telepon sore ini, masih membahas tentang rencana mengakhiri masa lajang.
"Tunggulah aku memantaskan diri untuk menjadi lelakimu, Sil." Ujarnya seketika memecahkan hening.
"Tapi jika nanti ada laki-laki lain yang mampu memikat hati Sisil, aku ikhlas kalau Sisil lebih memilih dia. Mungkin kita enggak jodoh. Tapi aku yakin Tuhan gak pernah salah. Sesuatu yang memang ditakdirkan untuk menjadi milik kita, gak akan mungkin tertukar dengan punya orang lain. Kalau memang Sisil yang jadi jodoh aku, sejauh apapun kita pergi, pasti akan ada cara Tuhan untuk menyatukan kita kembali. Tapi kalo memang bukan, ya mau gimana lagi. Mungkin bukan aku yang terbaik buat Sisil." Kali ini aku merasa pembicaraan ini agak mendalam.
"Iya, kamu benar," cuma itu yang bisa keluar dari mulutku. Kemudian hening selama beberapa detik.
"Sil, di sini udah mau maghrib. Aku siap-siap mau ke mesjid dulu, ya."
"Iya. Makasi ya udah nelpon aku."
"Iya, sama-sama. Udah dulu, ya. Assalammualaikum."
"Walaikumsalam." Klik! Telepon pun terputus.
Begitulah isi pesan singkat yang masuk ke ponselku pada pukul 14.47 siang ini. Baru kubaca sekitar pukul 17.30 sore, saat kuhempaskan tubuh ke ranjang, setelah lelah seharian beraktivitas dan kurang tidur di malam sebelumnya.
"Terima kasih ya :D," jawabku singkat.
"Sisil lagi sibuk?" ia bertanya melalui sms.
"Enggak. Ada apa?"
"Aku telpon boleh?" tanyanya.
"Boleh."
Tak lama kemudian ponselku berbunyi.
"Hallo, assalammualaikum," sapaku.
"Walaikumsalam. Selamat ulang tahun, Sil." Ia mengucapkan selamat ulang tahun untukku. Aku masih mengenal suaranya, laki-laki yang sedang berbicara denganku ini.
"Makasi yaa. hehe.. kamu inget aja rupanya." aku mencoba berbasa-basi sedikit.
Kemudian aku dan laki-laki ini saling menanyakan kabar masing-masing. Sudah lama sekali aku tak mendengar kabarnya dan hampir tak pernah lagi aku melihat postingan terbaru di media sosialnya. Ternyata dia sudah selesai kuliah dan saat ini bekerja sebagai asisten lab di kampusnya.
Ia lalu menanyakan padaku perihal rencana melepas masa lajang. Jujur, aku masih belum memiliki rencana apapun soal itu. Namun pertanyaannya tersebut membuat pikiranku kembali lagi ke masa ketika pertama kali aku berkenalan dengannya.
Waktu itu, dua tahun yang lalu.. aku sedang berada di salah satu warung kopi di Banda Aceh. Sore itu, aku berencana pulang, namun hujan menghentikanku. Aku tak mungkin sendirian menunggu labi-labi yang lewat di depan warung kopi itu saat hujan sedang lebat-lebatnya. Jadi aku memutuskan untuk menunggu sebentar sampai hujan agak sedikit reda.
Sambil menunggu hujan reda, aku memutuskan untuk memainkan game yang ada di ponselku. 15 menit bermain game, tiba-tiba seseorang mengetuk mejaku.
"Heh, mentang-mentang udah ada BB sombong kali, ya.."
Kuangkat wajahku, melihat siapa yang tiba-tiba mengetuk mejaku. "Eh, Kiiiiiii!!! Aku pikir siapa lah!" Ternyata Kiki, teman lamaku.
"Itulah, udah ada hape baru, gak liat-liat orang lagi, ya! Mentang-mentang.. Sendirian aja?" tanyanya.
"Iya nih. Mau pulang, tapi hujan. Ya, bentar-bentar lagi lah, pulangnya. Eh, kalian duduk, lah." Aku menyodorkan dua kursi di depanku. Itu pertama kali aku bertemu denganmu yang saat itu sedang bersama Kiki. Kau saat itu menggunakan baju kaos berwarna biru, celana jeans, kaca mata besar berlensa tebal dengan bingkai berwarna hitam. Wajahmu orientalis, kulit putih, dengan sedikit bekas jerawat di pipi. Saat itu kau tidak banyak bicara, lebih banyak menunduk dan menyimak pembicaraanku dengan Kiki, sambil sesekali ikut tertawa jika kami membahas hal-hal lucu. Namun kemudian malamnya saat aku mengecek facebook ku, aku melihat kau mengirimkan permintaan pertemanan untukku dan meng-add BBM ku juga. Dari situ lah kisah kita dimulai...
Kau saat itu begitu pemalu. Sering aku mendapat notifikasi dari kau yang me-like postingan-postingan di facebook ku, tanpa pernah mengomentari apapun. Tapi kemudian aku tahu bahwa kau sering bertanya pada Kiki mengenaiku. Iseng, waktu itu aku coba menyapamu duluan melalui BBM, hingga kemudian berlanjut ke pembicaraan telepon.
Saat pertama kali berbicara denganmu, aku heran mengapa kau begitu pasif. "Ngomong sama aku ngebosenin, ya?" tanyaku pada waktu itu. Namun kemudian kau membantahnya. Kau bilang ini adalah kali pertama kau berbicara melalui telepon dengan seorang perempuan dan dengan durasi yang lumayan panjang. "Aku gugup kalau bicara dengan cewek, Sil. Maaf." begitu jawabmu.
"Ya ampun! Udah 21 tahun tapi masih takut ngobrol sama cewek? Helloooo.. Kamu gak boleh kayak gitu terus.. nanti kamu gak bisa dapetin cewek! Ayoo biasain dong bergaul sama cewek!"
"Ya udah, kalo kamu malu, kamu boleh biasain sama aku. Hahaha.. gak perlu malu-malu ah sama aku, ntar malah malu-maluin, lagi. Anggap aja aku ini sama kayak temen-temen cowok kamu yang lainnya." Aku menawarkan diri supaya kamu bisa percaya diri dalam bergaul dengan lawan jenis. Begitu saja pada awalnya.
Ternyata benar kata orang, cinta dapat tumbuh karena terbiasa. Setidaknya begitulah yang terjadi di antara kita berdua. Kau yang saat itu sudah terbiasa denganku, pada malam itu mengatakan ketertarikanmu padaku.
"Kenapa kamu bisa suka sama aku?" tanyaku penuh heran.
"Aku gak tau, Sil. Dari awal aku ketemu Sil, aku merasa Sil itu berbeda. Sil orang yang menyenangkan. Itu kesan pertama aku. Tapi semakin aku kenal Sil, semakin aku menyukai kepribadian Sil . Sil baik sama aku."
"Tapi, tapi kenapa aku? Aku ini enggak cantik, loh. Aku gak tinggi, gak langsing. Secara fisik, aku bukanlah cantik yang didefinisikan oleh kebanyakan laki-laki."
Kamu hanya diam.
"Kenapa aku? Kenapa gak perempuan lain?" tanyaku lagi.
"Karena aku gak punya alasan untuk suka sama perempuan lain selain Sil!"
Kali ini aku yang terdiam. Kita berdua larut dalam keheningan selama beberapa menit, bahkan aku bisa mendengar suara jangkrik yang berasal dari rawa-rawa di sebelah rumahku.
"Kenapa baru sekarang bilangnya, saat kita udah jauh gini?" Aku memecahkan keheningan dengan bertanya lagi. Jujur, waktu itu terlalu banyak 'kenapa, kenapa, dan kenapa' di dalam otak ku.
"Karena aku gak punya nyali untuk ngomong langsung di depan Sil! Seumur hidup, baru ini keberanian terbesar aku sama perempuan. Sama Sil."
Dan kemudian kita terdiam lagi..
"Dengar, Sil. Aku ngomong kayak gini bukan berarti aku minta Sisil untuk jadi pacar aku, bukan. Bukan. Aku cuma gak tahan aja untuk nahan perasaan ini. Semakin aku tahan, semakin susah aku kendaliin. Aku cuma bilang aja karena cuma Sisil satu-satunya teman perempuan yang akrab sama aku."
"Aku tau, aku bukan cowok idaman Sisil. Aku bukan aktivis, atau orang yang bisa Sisil ajak diskusi terkait masalah-masalah sosial yang Sisil pikirin. Aku gak ngerti tentang itu. Aku cuma ngerti tentang ilmu bumi, Sil. Aku ini laki-laki yang introvert banget, bukan tipe laki-laki humoris kayak yang Sisil suka." tambahnya.
"Aku juga sadar, Sisil gak mungkin suka sama aku.." kali ini nada suaranya agak melemah.
"Sebenarnya kamu laki-laki yang menarik, kok. Kamu gak kayak laki-laki lain yang caper dan sok asik. Kamu bener-bener apa adanya." Aku berusaha merespon pengakuannya.
"Aku suka Sil, tapi aku gak berani minta Sil jadi pacar aku. Sil layak untuk dapatin yang lebih baik dari aku." Entah kenapa aku jadi agak sedih saat dia berkata seperti ini.
"Tapi aku akan berusaha Sil, supaya bisa jadi laki-laki yang layak buat Sisil."
***
Kembali ke percakapan di telepon sore ini, masih membahas tentang rencana mengakhiri masa lajang.
Melalui suara yang masih ku kenal itu ia memintaku untuk menunggu hingga ia siap. Aku bertanya: "Sampai kapan?"
"Hingga waktu yang tak bisa kupastikan," jawabnya. Suasana tiba-tiba menjadi hening.
"Tunggulah aku memantaskan diri untuk menjadi lelakimu, Sil." Ujarnya seketika memecahkan hening.
"Tapi jika nanti ada laki-laki lain yang mampu memikat hati Sisil, aku ikhlas kalau Sisil lebih memilih dia. Mungkin kita enggak jodoh. Tapi aku yakin Tuhan gak pernah salah. Sesuatu yang memang ditakdirkan untuk menjadi milik kita, gak akan mungkin tertukar dengan punya orang lain. Kalau memang Sisil yang jadi jodoh aku, sejauh apapun kita pergi, pasti akan ada cara Tuhan untuk menyatukan kita kembali. Tapi kalo memang bukan, ya mau gimana lagi. Mungkin bukan aku yang terbaik buat Sisil." Kali ini aku merasa pembicaraan ini agak mendalam.
"Iya, kamu benar," cuma itu yang bisa keluar dari mulutku. Kemudian hening selama beberapa detik.
"Sil, di sini udah mau maghrib. Aku siap-siap mau ke mesjid dulu, ya."
"Iya. Makasi ya udah nelpon aku."
"Iya, sama-sama. Udah dulu, ya. Assalammualaikum."
"Walaikumsalam." Klik! Telepon pun terputus.
Jumat, 24 Oktober 2014
Tentang Kau, Rindu, dan Candu
Rindu dan candu
adalah kau yang selalu ada di dalam kalbu
***
Menunggu dirimu yang candu Dibawah langit kelabu Bersama sekeping rindu
***
Merindu dan candu Tak lepas dari rasa Bertemu bukanlah sebuah jawaban Dirindu, itu yang aku mau darimu..
***
Hei pria berkacamata Kau adalah hal pertama Yang ku cari dengan seksama Setiap memandang layar maya Ah, mengapa Hari ini kita tak bertegur sapa?
***
*Dikutip dari akun twitter @Silfa_NA
adalah kau yang selalu ada di dalam kalbu
***
Menunggu dirimu yang candu Dibawah langit kelabu Bersama sekeping rindu
***
Merindu dan candu Tak lepas dari rasa Bertemu bukanlah sebuah jawaban Dirindu, itu yang aku mau darimu..
***
Hei pria berkacamata Kau adalah hal pertama Yang ku cari dengan seksama Setiap memandang layar maya Ah, mengapa Hari ini kita tak bertegur sapa?
***
*Dikutip dari akun twitter @Silfa_NA
Jumat, 29 Agustus 2014
In Relationship: I'm Ready Now!
Saya rasa mungkin sebagian orang yang pernah menjalin asmara selama bertahun-tahun lalu kandas, pernah merasakan perasaan ingin memulai cinta yang baru, namun di sisi lain merasakan lelah. Lelah untuk memulai lagi. Lelah untuk mulai membuka hati, menjalani proses saling mengenal satu sama lain, terlibat dalam pertengkaran-pertengkaran, dan adaptasi yang harus dimulai dari nol lagi.
Kelelahan yang saya rasa bukan tanpa alasan. Pada tahun 2009 yang lalu saya menjalin hubungan asmara dengan seorang pria. Tipikal hubungan asmara yang sangat serius untuk melanjutkan hubungan ke jenjang berikutnya, yaitu pernikahan. Sebagian besar waktu dan pikiran saya curahkan kepada pria tersebut, namun kemudian takdir berkata lain. Hubungan saya dengan dia pun kandas di tahun 2012. Selesai dalam waktu 3 tahun.
Setelah hubungan tersebut berakhir, saya masih tetap sendiri selama 2.5 tahun. Sebenarnya saya bisa saja langsung menjalin hubungan dengan lelaki yang dekat dengan saya, tapi saya tidak mau jika hanya menjadikan hubungan baru hanya sebagai pelarian sementara. Banyak lelaki yang datang dan mendekat, tapi jujur, saya belum siap. Saya tidak mau terjebak dalam perasaan yang semu. Saya tidak mau mempermainkan hati orang lain.
Selama 2.5 tahun saya menyibukkan diri dengan berbagai aktivitas; menyelesaikan kuliah dan tugas akhir, terlibat dalam kegiatan-kegiatan sosial, berkenalan dengan orang-orang baru, mengejar karir, dan melakukan hal-hal positif lainnya. Beruntung saya tidak sendiri. Saya punya teman-teman yang single dan LDR yang sering menemani saya beraktivitas. Jadi gak berasa 'jomblo' nya. Hihihi.
Hingga kemudian di akhir bulan Agustus ini ada pria yang mendekati saya dan kemudian saya iyakan permintaannya untuk menjalin hubungan.
Awalnya saya kenal sama pria ini setahun yang lalu, sekitar tahun 2013. Dia adalah seorang pria yang usianya setahun diatasku, dan kampusnya di sebelah kampusku. Saya dan dia memulainya dari pertemanan di media sosial. Seperti orang asing lain yang meng-add saya di facebook, setelah saya konfirmasi kemudian saya biarkan begitu saja. Dia lah yang kemudian memulai perkenalan terlebih dahulu. Dari facebook kemudian lanjut ke BBM.
Lanjut ke BBM, komunikasi saya dengannya semakin intens. Kami banyak berbicara mengenai bisnis, investasi, cerita-cerita tentang isi buku Robert Kiyosaki (Rich Dad Poor Dad), dan saling bercerita tentang visi hidup masing-masing. Awalnya, menurut saya dia ini hanya anak band yang cuma suka senang-senang dan punya banyak teman spesial wanita alias playboy. Ternyata anggapan saya salah. Semakin saya mengenal dia, semakin saya melihat dia sebagai sosok yang berbeda. Dia adalah sosok anak muda yang berpikiran visioner. Pada saat itu ketika usianya masih 22 atau 23 tahun, dia berani mengambil langkah besar: membuka bisnis! Dari situ lah kemudian kami sering berbagi pandangan tentang bisnis dan investasi (terutama soal emas).
Kemudian dari obrolan via BBM, saya menganjurkannya untuk investasi dalam bentuk logam mulia. Bukan dalam bentuk perhiasan, tapi dalam bentuk emas koin, sebab emas koin nilai jual nya lebih menguntungkan dan tanpa potongan biaya jika mau dijual kembali. Kemudian saya merekomendasikan toko emas langganan saya dan mama. Karena dia tidak tahu tempatnya, jadi kita janjian buat ketemu. Nah, di situ lah pertemuan pertama saya dengan dia. Jadi kalo misalnya ditanyain "ketemunya dimana?", saya bakalan jawab "di toko emas!".
Setelah pertemuan di toko emas itu, saya dan dia tidak pernah bertemu lagi, tapi masih intens komunikasi via BBM. Hingga kemudian dia menawarkan hubungan yang lebih dari sekedar teman, tapi saya tolak. Jujur, sebenarnya saat itu saya belum sepenuhnya siap, walaupun dia adalah orang yang membuat saya gak pegel untuk ngetik2 obrolan bersamanya di BB sampai tengah malam. Setelah itu hubungan kami pun mulai renggang, komunikasi pun gak seintens dulu, tapi ada lah sesekali. Kalau di jalan pergi-pulang kampus, saya pun sesekali nge-lewatin tempat bisnis nya dia, tapi gak singgah, cuma ngabarin doang tadi ada lewat situ cuma nggak ngeliat dia. Gitu doang.
Setahun berlalu, kemudian dia tiba-tiba nyapa lagi. Dan kita seperti biasa, nanya kabar, nanya kesibukan akhir-akhir ini, dan hal-hal casual lainnya. Komunikasi pun mulai lagi dan tiba-tiba saya langsung meng-iya-kan ketika ia meminta saya untuk menjadi pasangannya. Bahkan saya sempat bingung, "ini beneran gak sih?", batinku. Dan ternyata dia memang serius.
Kalo mau di flash back lagi, selama setahun ini komunikasi saya sama dia sempat on-off berkali-kali. Saya bahkan sempat dekat dengan beberapa pria, mungkin begitu juga dengan dia. Saya sempat move on, tapi entah kenapa akhirnya balik lagi ke dia. Entahlah.
Saya dan dia memiliki sedikit kesamaan, dan banyak perbedaan. Persamaannya adalah kami sama-sama anak pertama, dan sama-sama suka makanan pedas. Sama-sama suka nuduh satu sama lain cerewet juga akibat suka makanan pedas. Hahaha. Sedangkan perbedaannya, waduh, banyak banget deh kayaknya. Tapi semoga perbedaan-perbedaan itu bukan jadi jurang pemisah, namun untuk saling melengkapi.
Hal lain yang saya suka dari dia adalah: dia lucu dan kalo ngomong suka blak-blakan. Saking blak-blakannya kadang-kadang suka bikin saya ketawa-ketawa sendiri. Karena dia tipe blak-blakan, jadinya saya ikutan blak-blakan juga. Dari awal pacaran saya langsung bilang ke dia: "Bang, ini serius kita pacaran? Kalo misalnya pacaran cuma untuk mesra-mesraan, mendingan pacaran aja sana sama cewek cabe-cabean. Tapi kalo misalnya pengen komitmen serius, pengen ada partner untuk seru-seruan, bertukar pikiran, saling support, dll, ayok kita lanjut! Kalo abang mau serius, Sil bisa lebih serius." Dan ternyata dia bilang dia mau serius.
Well, to be honest, saya bukan orang yang gampang jatuh cinta. Untuk saat ini pun perasaan saya ke dia masih belum tahap cinta sepenuhnya. Saya percaya bahwa cinta bisa tumbuh dan berkembang. Dan sekarang saya sudah siap membuka hati untuk cinta yang baru.
* P.S:
Buat bang PR, if you read this one, I just wanna tell you that I like it when we had our first fight yesterday. And after we solved our fight, we become closer and closer. For me, it was a process for us to know each other well. :)
With love,
Silfana
Kelelahan yang saya rasa bukan tanpa alasan. Pada tahun 2009 yang lalu saya menjalin hubungan asmara dengan seorang pria. Tipikal hubungan asmara yang sangat serius untuk melanjutkan hubungan ke jenjang berikutnya, yaitu pernikahan. Sebagian besar waktu dan pikiran saya curahkan kepada pria tersebut, namun kemudian takdir berkata lain. Hubungan saya dengan dia pun kandas di tahun 2012. Selesai dalam waktu 3 tahun.
Setelah hubungan tersebut berakhir, saya masih tetap sendiri selama 2.5 tahun. Sebenarnya saya bisa saja langsung menjalin hubungan dengan lelaki yang dekat dengan saya, tapi saya tidak mau jika hanya menjadikan hubungan baru hanya sebagai pelarian sementara. Banyak lelaki yang datang dan mendekat, tapi jujur, saya belum siap. Saya tidak mau terjebak dalam perasaan yang semu. Saya tidak mau mempermainkan hati orang lain.
Selama 2.5 tahun saya menyibukkan diri dengan berbagai aktivitas; menyelesaikan kuliah dan tugas akhir, terlibat dalam kegiatan-kegiatan sosial, berkenalan dengan orang-orang baru, mengejar karir, dan melakukan hal-hal positif lainnya. Beruntung saya tidak sendiri. Saya punya teman-teman yang single dan LDR yang sering menemani saya beraktivitas. Jadi gak berasa 'jomblo' nya. Hihihi.
Hingga kemudian di akhir bulan Agustus ini ada pria yang mendekati saya dan kemudian saya iyakan permintaannya untuk menjalin hubungan.
Awalnya saya kenal sama pria ini setahun yang lalu, sekitar tahun 2013. Dia adalah seorang pria yang usianya setahun diatasku, dan kampusnya di sebelah kampusku. Saya dan dia memulainya dari pertemanan di media sosial. Seperti orang asing lain yang meng-add saya di facebook, setelah saya konfirmasi kemudian saya biarkan begitu saja. Dia lah yang kemudian memulai perkenalan terlebih dahulu. Dari facebook kemudian lanjut ke BBM.
Lanjut ke BBM, komunikasi saya dengannya semakin intens. Kami banyak berbicara mengenai bisnis, investasi, cerita-cerita tentang isi buku Robert Kiyosaki (Rich Dad Poor Dad), dan saling bercerita tentang visi hidup masing-masing. Awalnya, menurut saya dia ini hanya anak band yang cuma suka senang-senang dan punya banyak teman spesial wanita alias playboy. Ternyata anggapan saya salah. Semakin saya mengenal dia, semakin saya melihat dia sebagai sosok yang berbeda. Dia adalah sosok anak muda yang berpikiran visioner. Pada saat itu ketika usianya masih 22 atau 23 tahun, dia berani mengambil langkah besar: membuka bisnis! Dari situ lah kemudian kami sering berbagi pandangan tentang bisnis dan investasi (terutama soal emas).
Kemudian dari obrolan via BBM, saya menganjurkannya untuk investasi dalam bentuk logam mulia. Bukan dalam bentuk perhiasan, tapi dalam bentuk emas koin, sebab emas koin nilai jual nya lebih menguntungkan dan tanpa potongan biaya jika mau dijual kembali. Kemudian saya merekomendasikan toko emas langganan saya dan mama. Karena dia tidak tahu tempatnya, jadi kita janjian buat ketemu. Nah, di situ lah pertemuan pertama saya dengan dia. Jadi kalo misalnya ditanyain "ketemunya dimana?", saya bakalan jawab "di toko emas!".
Setelah pertemuan di toko emas itu, saya dan dia tidak pernah bertemu lagi, tapi masih intens komunikasi via BBM. Hingga kemudian dia menawarkan hubungan yang lebih dari sekedar teman, tapi saya tolak. Jujur, sebenarnya saat itu saya belum sepenuhnya siap, walaupun dia adalah orang yang membuat saya gak pegel untuk ngetik2 obrolan bersamanya di BB sampai tengah malam. Setelah itu hubungan kami pun mulai renggang, komunikasi pun gak seintens dulu, tapi ada lah sesekali. Kalau di jalan pergi-pulang kampus, saya pun sesekali nge-lewatin tempat bisnis nya dia, tapi gak singgah, cuma ngabarin doang tadi ada lewat situ cuma nggak ngeliat dia. Gitu doang.
Setahun berlalu, kemudian dia tiba-tiba nyapa lagi. Dan kita seperti biasa, nanya kabar, nanya kesibukan akhir-akhir ini, dan hal-hal casual lainnya. Komunikasi pun mulai lagi dan tiba-tiba saya langsung meng-iya-kan ketika ia meminta saya untuk menjadi pasangannya. Bahkan saya sempat bingung, "ini beneran gak sih?", batinku. Dan ternyata dia memang serius.
Kalo mau di flash back lagi, selama setahun ini komunikasi saya sama dia sempat on-off berkali-kali. Saya bahkan sempat dekat dengan beberapa pria, mungkin begitu juga dengan dia. Saya sempat move on, tapi entah kenapa akhirnya balik lagi ke dia. Entahlah.
Saya dan dia memiliki sedikit kesamaan, dan banyak perbedaan. Persamaannya adalah kami sama-sama anak pertama, dan sama-sama suka makanan pedas. Sama-sama suka nuduh satu sama lain cerewet juga akibat suka makanan pedas. Hahaha. Sedangkan perbedaannya, waduh, banyak banget deh kayaknya. Tapi semoga perbedaan-perbedaan itu bukan jadi jurang pemisah, namun untuk saling melengkapi.
Hal lain yang saya suka dari dia adalah: dia lucu dan kalo ngomong suka blak-blakan. Saking blak-blakannya kadang-kadang suka bikin saya ketawa-ketawa sendiri. Karena dia tipe blak-blakan, jadinya saya ikutan blak-blakan juga. Dari awal pacaran saya langsung bilang ke dia: "Bang, ini serius kita pacaran? Kalo misalnya pacaran cuma untuk mesra-mesraan, mendingan pacaran aja sana sama cewek cabe-cabean. Tapi kalo misalnya pengen komitmen serius, pengen ada partner untuk seru-seruan, bertukar pikiran, saling support, dll, ayok kita lanjut! Kalo abang mau serius, Sil bisa lebih serius." Dan ternyata dia bilang dia mau serius.
Well, to be honest, saya bukan orang yang gampang jatuh cinta. Untuk saat ini pun perasaan saya ke dia masih belum tahap cinta sepenuhnya. Saya percaya bahwa cinta bisa tumbuh dan berkembang. Dan sekarang saya sudah siap membuka hati untuk cinta yang baru.
* P.S:
Buat bang PR, if you read this one, I just wanna tell you that I like it when we had our first fight yesterday. And after we solved our fight, we become closer and closer. For me, it was a process for us to know each other well. :)
With love,
Silfana
Langganan:
Postingan (Atom)