Sabtu, 17 Januari 2015

Cinta, Logika, Doa.

Pernahkah kau mencintai seseorang sampai-sampai kau lupa tentang dirimu sendiri?
Setiap hari, siang dan malam hanya pikiran tentangnya yang ada di dalam kepalamu, hingga kau tak bisa berkonsentrasi, tak bisa tenang jika belum mendapat kabar darinya.

Pernahkah kau mencintai seseorang sehingga membuatmu merasa dirimu ini bukanlah dirimu yang biasa?
Kau yang biasanya cuek dan tak peduli, tiba-tiba berubah menjadi seseorang yang selalu mencari alasan agar tetap bisa berhubungan dengan ia yang kau cinta.

Pernahkah kau mencintai seseorang sampai-sampai kau merasa bahwa kau yang biasanya berbicara lantang di hadapan banyak orang,
Tiba-tiba harus mengendalikan gemuruh yang ada di dadamu, dan menjadi canggung ketika berbicara dengan dia yang kau cinta.

Pernahkah?

Aku pernah. Saat ini aku sedang mengalami itu.

Aku sedang mencintai seseorang yang aku tak tahu sejak kapan tepatnya rasa itu mulai muncul.
Aku tak tahu sejak kapan aku menjadi candu olehnya, selalu mencari-cari alasan agar dapat terus berkomunikasi dengannya, selalu ingin berada di dekatnya, selalu ingin dia, dia, dan dia,
Aku menjadi buta waktu dan kehilangan arah jika itu tentangnya.

Biasanya, aku tidak mudah untuk jatuh dalam sesuatu yang dinamakan 'cinta'.
Bahkan dengan kekasih-kekasihku sebelumnya, bukan aku yang lebih dahulu mencintai mereka.
Aku adalah orang yang mereka dambakan, dan aku akan melihat hal-hal baik dalam diri mereka sebelum aku memilih mereka. Dan setelah itu barulah cinta timbul dari kebiasaan dan kebersamaan. Dulu, bagiku begitulah cinta yang seharusnya.

Aku adalah orang yang selalu mengedepankan logika,
Dalam urusan cinta pun, bagiku selalu harus ada alasan logis untuk menyukai seseorang.
Entah karena berlandaskan kekaguman, atau kelebihan-kelebihan lain yang menimbulkan ketertarikan.

Tapi dengannya, logika ku seolah mati.
Aku menyukai segala hal tentangnya
Bahkan ketika aku tau ketidaksempurnaannya pun aku tetap suka.
Ketidaksempurnaannya adalah sempurna bagiku.
Aku menyayanginya secara utuh. Apa adanya.

Dengannya, aku menjadi seseorang yang berbeda..

Dengannya, aku bisa menjadi diriku sendiri. Aku bisa bebas menceritakan apapun, termasuk hal-hal yang tak mungkin ku ceritakan pada orang lain.
Dengannya, aku merasa nyaman. Tak pernah senyaman ini.

Ia adalah candu sebenar-benarnya candu bagiku.
Aku suka menatap matanya dari balik kacamatanya,
Aku suka melihat senyumannya dan lesung di sudut bawah bibirnya,
Aku selalu ingin membelai rambut hitam tebalnya,
Aku selalu ingin memeluk punggungnya,
Aku selalu ingin mendengar suaranya setiap hari,
Bagiku, segala hal yang ada padanya adalah keindahan.

Dia tak tahu
betapa hebatnya gemuruh dalam dada ini saat bersamanya
betapa senangnya aku saat ia bersikap manis padaku
betapa girangnya aku setiap habis berbicara dengannya di telepon
betapa aku ingin membekukan waktu setiap bersamanya
agar bisa lebih lama dengannya..

Dan aku..
Aku tak pernah menyukai orang segila ini.

Aku tergila-gila padanya
Sehingga di mataku tak ada pria lain yang lebih baik darinya.
Aku terlalu sibuk mencintainya
Sehingga tak punya waktu untuk jatuh cinta kepada yang lain.

Aku mencintainya sehingga aku merasa
Bahagianya adalah bahagiaku
Resahnya adalah resahku juga.
Aku selalu ingin menjadi teman dalam sepinya

Aku mencintainya tanpa aku tahu alasannya apa.
Aku percaya bahwa cinta yang sebenar-benarnya cinta adalah mencintai seseorang tanpa alasan, tanpa syarat..

Aku mencintainya bukan karena ketampanannya,
bukan karena kebaikannya,
bukan karena ia pandai atau berbakat,
bahkan bukan pula karena ia mencintaiku.

Aku mencintainya karena aku mencintainya.
Itu saja.
Tak ada alasan lain.

Aku mencintainya tanpa aku mengharapkannya untuk mencintaiku balik
Bahkan jika suatu saat nanti dia dengan yang lain,
Akan selalu ada ruang untuknya di dalam hati ini.

Mungkin aku bukanlah wanita paling sempurna di dalam hidupnya
Akan selalu ada wanita lain yang lebih cantik dan lebih menarik dariku.
Aku tak berharap ia akan memilihku
Aku hanya bisa mengadu pada Tuhanku yang Maha Kuasa
Tuhan tahu ada namanya dalam setiap munajatku..

Tapi aku percaya,
Tuhan tak pernah salah dalam memilih
Jika memang dia orangnya,
Akan selalu ada jalan
yang menuntunnya kembali padaku..


*P.S:
Jika kau membaca tulisan ini dan kau merasa ini adalah tentangmu,
Aku ingin kau tahu bahwa aku adalah wanita yang lidahnya selalu kelu
setiap ingin mengutarakan rasa ini padamu..


Now Playing: Glenn Fredly - Malaikat Juga Tahu

Senin, 29 Desember 2014

Tunggulah Aku Memantaskan Diri Untuk Menjadi Lelakimu

"Selamat Ulang tahun."

Begitulah isi pesan singkat yang masuk ke ponselku pada pukul 14.47 siang ini. Baru kubaca sekitar pukul 17.30 sore, saat kuhempaskan tubuh ke ranjang, setelah lelah seharian beraktivitas dan kurang tidur di malam sebelumnya.

"Terima kasih ya :D," jawabku singkat.

"Sisil lagi sibuk?" ia bertanya melalui sms.

"Enggak. Ada apa?"

"Aku telpon boleh?" tanyanya.

"Boleh."

Tak lama kemudian ponselku berbunyi.

"Hallo, assalammualaikum," sapaku.

"Walaikumsalam. Selamat ulang tahun, Sil." Ia mengucapkan selamat ulang tahun untukku. Aku masih mengenal suaranya, laki-laki yang sedang berbicara denganku ini.

"Makasi yaa. hehe.. kamu inget aja rupanya." aku mencoba berbasa-basi sedikit.

Kemudian aku dan laki-laki ini saling menanyakan kabar masing-masing. Sudah lama sekali aku tak mendengar kabarnya dan hampir tak pernah lagi aku melihat postingan terbaru di media sosialnya. Ternyata dia sudah selesai kuliah dan saat ini bekerja sebagai asisten lab di kampusnya.

Ia lalu menanyakan padaku perihal rencana melepas masa lajang. Jujur, aku masih belum memiliki rencana apapun soal itu. Namun pertanyaannya tersebut membuat pikiranku kembali lagi ke masa ketika pertama kali aku berkenalan dengannya.

Waktu itu, dua tahun yang lalu.. aku sedang berada di salah satu warung kopi di Banda Aceh. Sore itu, aku berencana pulang, namun hujan menghentikanku. Aku tak mungkin sendirian menunggu labi-labi yang lewat di depan warung kopi itu saat hujan sedang lebat-lebatnya. Jadi aku memutuskan untuk menunggu sebentar sampai hujan agak sedikit reda.

Sambil menunggu hujan reda, aku memutuskan untuk memainkan game yang ada di ponselku. 15 menit bermain game, tiba-tiba seseorang mengetuk mejaku.

"Heh, mentang-mentang udah ada BB sombong kali, ya.."

Kuangkat wajahku, melihat siapa yang tiba-tiba mengetuk mejaku. "Eh, Kiiiiiii!!! Aku pikir siapa lah!" Ternyata Kiki, teman lamaku.

"Itulah, udah ada hape baru, gak liat-liat orang lagi, ya! Mentang-mentang.. Sendirian aja?" tanyanya.

"Iya nih. Mau pulang, tapi hujan. Ya, bentar-bentar lagi lah, pulangnya. Eh, kalian duduk, lah." Aku menyodorkan dua kursi di depanku. Itu pertama kali aku bertemu denganmu yang saat itu sedang bersama Kiki. Kau saat itu menggunakan baju kaos berwarna biru, celana jeans, kaca mata besar berlensa tebal dengan bingkai berwarna hitam. Wajahmu orientalis, kulit putih, dengan sedikit bekas jerawat di pipi. Saat itu kau tidak banyak bicara, lebih banyak menunduk dan menyimak pembicaraanku dengan Kiki, sambil sesekali ikut tertawa jika kami membahas hal-hal lucu. Namun kemudian malamnya saat aku mengecek facebook ku, aku melihat kau mengirimkan permintaan pertemanan untukku dan meng-add BBM ku juga. Dari situ lah kisah kita dimulai...

Kau saat itu begitu pemalu. Sering aku mendapat notifikasi dari kau yang me-like postingan-postingan di facebook ku, tanpa pernah mengomentari apapun. Tapi kemudian aku tahu bahwa kau sering bertanya pada Kiki mengenaiku. Iseng, waktu itu aku coba menyapamu duluan melalui BBM, hingga kemudian berlanjut ke pembicaraan telepon.

Saat pertama kali berbicara denganmu, aku heran mengapa kau begitu pasif. "Ngomong sama aku ngebosenin, ya?" tanyaku pada waktu itu. Namun kemudian kau membantahnya. Kau bilang ini adalah kali pertama kau berbicara melalui telepon dengan seorang perempuan dan dengan durasi yang lumayan panjang. "Aku gugup kalau bicara dengan cewek, Sil. Maaf." begitu jawabmu.

"Ya ampun! Udah 21 tahun tapi masih takut ngobrol sama cewek? Helloooo.. Kamu gak boleh kayak gitu terus.. nanti kamu gak bisa dapetin cewek! Ayoo biasain dong bergaul sama cewek!"

"Ya udah, kalo kamu malu, kamu boleh biasain sama aku. Hahaha.. gak perlu malu-malu ah sama aku, ntar malah malu-maluin, lagi. Anggap aja aku ini sama kayak temen-temen cowok kamu yang lainnya." Aku menawarkan diri supaya kamu bisa percaya diri dalam bergaul dengan lawan jenis. Begitu saja pada awalnya.

Ternyata benar kata orang, cinta dapat tumbuh karena terbiasa. Setidaknya begitulah yang terjadi di antara kita berdua. Kau yang saat itu sudah terbiasa denganku, pada malam itu mengatakan ketertarikanmu padaku.

"Kenapa kamu bisa suka sama aku?" tanyaku penuh heran.

"Aku gak tau, Sil. Dari awal aku ketemu Sil, aku merasa Sil itu berbeda. Sil orang yang menyenangkan. Itu kesan pertama aku. Tapi semakin aku kenal Sil, semakin aku menyukai kepribadian Sil . Sil baik sama aku."

"Tapi, tapi kenapa aku? Aku ini enggak cantik, loh. Aku gak tinggi, gak langsing. Secara fisik, aku bukanlah cantik yang didefinisikan oleh kebanyakan laki-laki."

Kamu hanya diam.

"Kenapa aku? Kenapa gak perempuan lain?" tanyaku lagi.

"Karena aku gak punya alasan untuk suka sama perempuan lain selain Sil!"

Kali ini aku yang terdiam. Kita berdua larut dalam keheningan selama beberapa menit, bahkan aku bisa mendengar suara jangkrik yang berasal dari rawa-rawa di sebelah rumahku.

"Kenapa baru sekarang bilangnya, saat kita udah jauh gini?" Aku memecahkan keheningan dengan bertanya lagi. Jujur, waktu itu terlalu banyak 'kenapa, kenapa, dan kenapa' di dalam otak ku.

"Karena aku gak punya nyali untuk ngomong langsung di depan Sil! Seumur hidup, baru ini keberanian terbesar aku sama perempuan. Sama Sil."

Dan kemudian kita terdiam lagi..

"Dengar, Sil. Aku ngomong kayak gini bukan berarti aku minta Sisil untuk jadi pacar aku, bukan. Bukan. Aku cuma gak tahan aja untuk nahan perasaan ini. Semakin aku tahan, semakin susah aku kendaliin. Aku cuma bilang aja karena cuma Sisil satu-satunya teman perempuan yang akrab sama aku."

"Aku tau, aku bukan cowok idaman Sisil. Aku bukan aktivis, atau orang yang bisa Sisil ajak diskusi terkait masalah-masalah sosial yang Sisil pikirin. Aku gak ngerti tentang itu. Aku cuma ngerti tentang ilmu bumi, Sil. Aku ini laki-laki yang introvert banget, bukan tipe laki-laki humoris kayak yang Sisil suka." tambahnya.

"Aku juga sadar, Sisil gak mungkin suka sama aku.." kali ini nada suaranya agak melemah.

"Sebenarnya kamu laki-laki yang menarik, kok. Kamu gak kayak laki-laki lain yang caper dan sok asik. Kamu bener-bener apa adanya." Aku berusaha merespon pengakuannya.

"Aku suka Sil, tapi aku gak berani minta Sil jadi pacar aku. Sil layak untuk dapatin yang lebih baik dari aku." Entah kenapa aku jadi agak sedih saat dia berkata seperti ini.

"Tapi aku akan berusaha Sil, supaya bisa jadi laki-laki yang layak buat Sisil."

***

Kembali ke percakapan di telepon sore ini, masih membahas tentang rencana mengakhiri masa lajang.


Melalui suara yang masih ku kenal itu ia memintaku untuk menunggu hingga ia siap. Aku bertanya: "Sampai kapan?"

"Hingga waktu yang tak bisa kupastikan," jawabnya. Suasana tiba-tiba menjadi hening.

"Tunggulah aku memantaskan diri untuk menjadi lelakimu, Sil." Ujarnya seketika memecahkan hening.


"Tapi jika nanti ada laki-laki lain yang mampu memikat hati Sisil, aku ikhlas kalau Sisil lebih memilih dia. Mungkin kita enggak jodoh. Tapi aku yakin Tuhan gak pernah salah. Sesuatu yang memang ditakdirkan untuk menjadi milik kita, gak akan mungkin tertukar dengan punya orang lain. Kalau memang Sisil yang jadi jodoh aku, sejauh apapun kita pergi, pasti akan ada cara Tuhan untuk menyatukan kita kembali. Tapi kalo memang bukan, ya mau gimana lagi. Mungkin bukan aku yang terbaik buat Sisil." Kali ini aku merasa pembicaraan ini agak mendalam.


"Iya, kamu benar," cuma itu yang bisa keluar dari mulutku. Kemudian hening selama beberapa detik.


"Sil, di sini udah mau maghrib. Aku siap-siap mau ke mesjid dulu, ya."

"Iya. Makasi ya udah nelpon aku." 
"Iya, sama-sama. Udah dulu, ya. Assalammualaikum."
"Walaikumsalam." Klik! Telepon pun terputus.

Jumat, 24 Oktober 2014

Tentang Kau, Rindu, dan Candu

Rindu dan candu
adalah kau yang selalu ada di dalam kalbu

***

Menunggu dirimu yang candu Dibawah langit kelabu Bersama sekeping rindu

***

Merindu dan candu Tak lepas dari rasa Bertemu bukanlah sebuah jawaban Dirindu, itu yang aku mau darimu..

***

Hei pria berkacamata Kau adalah hal pertama Yang ku cari dengan seksama Setiap memandang layar maya Ah, mengapa Hari ini kita tak bertegur sapa?

***

*Dikutip dari akun twitter @Silfa_NA


Jumat, 29 Agustus 2014

In Relationship: I'm Ready Now!

Saya rasa mungkin sebagian orang yang pernah menjalin asmara selama bertahun-tahun lalu kandas, pernah merasakan perasaan ingin memulai cinta yang baru, namun di sisi lain merasakan lelah. Lelah untuk memulai lagi. Lelah untuk mulai membuka hati, menjalani proses saling mengenal satu sama lain, terlibat dalam pertengkaran-pertengkaran, dan adaptasi yang harus dimulai dari nol lagi.

Kelelahan yang saya rasa bukan tanpa alasan. Pada tahun 2009 yang lalu saya menjalin hubungan asmara dengan seorang pria. Tipikal hubungan asmara yang sangat serius untuk melanjutkan hubungan ke jenjang berikutnya, yaitu pernikahan. Sebagian besar waktu dan pikiran saya curahkan kepada pria tersebut, namun kemudian takdir berkata lain. Hubungan saya dengan dia pun kandas di tahun 2012. Selesai dalam waktu 3 tahun.

Setelah hubungan tersebut berakhir, saya masih tetap sendiri selama 2.5 tahun. Sebenarnya saya bisa saja langsung menjalin hubungan dengan lelaki yang dekat dengan saya, tapi saya tidak mau jika hanya menjadikan hubungan baru hanya sebagai pelarian sementara. Banyak lelaki yang datang dan mendekat, tapi jujur, saya belum siap. Saya tidak mau terjebak dalam perasaan yang semu. Saya tidak mau mempermainkan hati orang lain.

Selama 2.5 tahun saya menyibukkan diri dengan berbagai aktivitas; menyelesaikan kuliah dan tugas akhir, terlibat dalam kegiatan-kegiatan sosial, berkenalan dengan orang-orang baru, mengejar karir, dan melakukan hal-hal positif lainnya. Beruntung saya tidak sendiri. Saya punya teman-teman yang single dan LDR yang sering menemani saya beraktivitas. Jadi gak berasa 'jomblo' nya. Hihihi.

Hingga kemudian di akhir bulan Agustus ini ada pria yang mendekati saya dan kemudian saya iyakan permintaannya untuk menjalin hubungan.

Awalnya saya kenal sama pria ini setahun yang lalu, sekitar tahun 2013. Dia adalah seorang pria yang usianya setahun diatasku, dan kampusnya di sebelah kampusku. Saya dan dia memulainya dari pertemanan di media sosial. Seperti orang asing lain yang meng-add saya di facebook, setelah saya konfirmasi kemudian saya biarkan begitu saja. Dia lah yang kemudian memulai perkenalan terlebih dahulu. Dari facebook kemudian lanjut ke BBM.

Lanjut ke BBM, komunikasi saya dengannya semakin intens. Kami banyak berbicara mengenai bisnis, investasi, cerita-cerita tentang isi buku Robert Kiyosaki (Rich Dad Poor Dad), dan saling bercerita tentang visi hidup masing-masing. Awalnya, menurut saya dia ini hanya anak band yang cuma suka senang-senang dan punya banyak teman spesial wanita alias playboy. Ternyata anggapan saya salah. Semakin saya mengenal dia, semakin saya melihat dia sebagai sosok yang berbeda. Dia adalah sosok anak muda yang berpikiran visioner. Pada saat itu ketika usianya masih 22 atau 23 tahun, dia berani mengambil langkah besar: membuka bisnis! Dari situ lah kemudian kami sering berbagi pandangan tentang bisnis dan investasi (terutama soal emas).

Kemudian dari obrolan via BBM, saya menganjurkannya untuk investasi dalam bentuk logam mulia. Bukan dalam bentuk perhiasan, tapi dalam bentuk emas koin, sebab emas koin nilai jual nya lebih menguntungkan dan tanpa potongan biaya jika mau dijual kembali. Kemudian saya merekomendasikan toko emas langganan saya dan mama. Karena dia tidak tahu tempatnya, jadi kita janjian buat ketemu. Nah, di situ lah pertemuan pertama saya dengan dia. Jadi kalo misalnya ditanyain "ketemunya dimana?", saya bakalan jawab "di toko emas!".

Setelah pertemuan di toko emas itu, saya dan dia tidak pernah bertemu lagi, tapi masih intens komunikasi via BBM. Hingga kemudian dia menawarkan hubungan yang lebih dari sekedar teman, tapi saya tolak. Jujur, sebenarnya saat itu saya belum sepenuhnya siap, walaupun dia adalah orang yang membuat saya gak pegel untuk ngetik2 obrolan bersamanya di BB sampai tengah malam. Setelah itu hubungan kami pun mulai renggang, komunikasi pun gak seintens dulu, tapi ada lah sesekali. Kalau di jalan pergi-pulang kampus, saya pun sesekali nge-lewatin tempat bisnis nya dia, tapi gak singgah, cuma ngabarin doang tadi ada lewat situ cuma nggak ngeliat dia. Gitu doang.

Setahun berlalu, kemudian dia tiba-tiba nyapa lagi. Dan kita seperti biasa, nanya kabar, nanya kesibukan akhir-akhir ini, dan hal-hal casual lainnya. Komunikasi pun mulai lagi dan tiba-tiba saya langsung meng-iya-kan ketika ia meminta saya untuk menjadi pasangannya. Bahkan saya sempat bingung, "ini beneran gak sih?", batinku. Dan ternyata dia memang serius.

Kalo mau di flash back lagi, selama setahun ini komunikasi saya sama dia sempat on-off berkali-kali. Saya bahkan sempat dekat dengan beberapa pria, mungkin begitu juga dengan dia. Saya sempat move on, tapi entah kenapa akhirnya balik lagi ke dia. Entahlah.

Saya dan dia memiliki sedikit kesamaan, dan banyak perbedaan. Persamaannya adalah kami sama-sama anak pertama, dan sama-sama suka makanan pedas. Sama-sama suka nuduh satu sama lain cerewet juga akibat suka makanan pedas. Hahaha. Sedangkan perbedaannya, waduh, banyak banget deh kayaknya. Tapi semoga perbedaan-perbedaan itu bukan jadi jurang pemisah, namun untuk saling melengkapi.

Hal lain yang saya suka dari dia adalah: dia lucu dan kalo ngomong suka blak-blakan. Saking blak-blakannya kadang-kadang suka bikin saya ketawa-ketawa sendiri. Karena dia tipe blak-blakan, jadinya saya ikutan blak-blakan juga. Dari awal pacaran saya langsung bilang ke dia: "Bang, ini serius kita pacaran? Kalo misalnya pacaran cuma untuk mesra-mesraan, mendingan pacaran aja sana sama cewek cabe-cabean. Tapi kalo misalnya pengen komitmen serius, pengen ada partner untuk seru-seruan, bertukar pikiran, saling support, dll, ayok kita lanjut! Kalo abang mau serius, Sil bisa lebih serius." Dan ternyata dia bilang dia mau serius.

Well, to be honest, saya bukan orang yang gampang jatuh cinta. Untuk saat ini pun perasaan saya ke dia masih belum tahap cinta sepenuhnya. Saya percaya bahwa cinta bisa tumbuh dan berkembang. Dan sekarang saya sudah siap membuka hati untuk cinta yang baru.


* P.S:

Buat bang PR, if you read this one, I just wanna tell you that I like it when we had our first fight yesterday. And after we solved our fight, we become closer and closer. For me, it was a process for us to know each other well. :)

With love,


Silfana

Jumat, 24 Mei 2013

Ketika tak ada kata yang terucap, bahasa yang tertinggal hanyalah perasaan

Cinta memang aneh. Tiba-tiba saja ada, tiba-tiba saja muncul tak terduga, lalu menjerat hati dalam jalinan perasaan yang halus dan sulit diuraikan.

 Biarlah dunia mengetahui perasaanku padanya melalui tulisan-tulisanku tentangnya. Ia adalah anonym. Akan selalu anonym dalam setiap tulisanku. Tak perlu berspekulasi, tak perlu mencari tahu, cukup baca dan pahami.

***

Aku tak pernah tahu bagaimana takdir ini bisa membawaku padanya. Tak pernah terpikirkan sebelumnya hati ini akan tertambat padanya. Ya, aku tak pernah tahu mengapa dan bagaimana waktu mampu menenggelamkanku padanya.

Namun entahlah, hati ini begitu bergemuruh akhir-akhir ini. Aku tahu aku pernah merasakan perasaan yang seperti ini sebelumnya. Ketakutan pun menyeruak. Bukan karena dulu aku pernah kecewa, namun aku takut mencintai di saat yang tidak tepat, ketika cinta datang bukan pada waktunya.

Lamunanku pun kembali tak tentu arah. Sungguh, begitu banyak kenangan yang terukir. Ada seseorang yang begitu berbeda. Pertama melihatnya biasa saja, namun akhir-akhir ini sosoknya selalu mampu mendebarkan hati ini, membuatku mendambakan berhentinya waktu setiap kali bersamanya, berbicara dengannya, atau bahkan saat tak sengaja bertatapan mata dengannya.

Semakin lama aku mengenalnya, semakin aku merasa ada sesuatu yang berbeda. Aku mengaguminya, mengagumi sosoknya yang begitu menghargai wanita, tutur katanya yang santun, serta pengetahuannya yang begitu luas. Namun yang paling aku sukai darinya adalah ketaatannya kepada Sang Maha Pencipta. Sungguh, bukannya aku membeda-bedakan, namun ia memang berbeda.

Aku tahu tak ada yang perlu ditakutkan. Cinta itu fitrah dan atas kehendak Sang Maha Kuasa. Kita tak dapat menolaknya, namun yang jadi masalah adalah bagaimana cara kita menyikapinya.
Kucoba menyerahkan segalanya kepada sang Maha membolak-balikkan hati. Aku tak ingin terjebak dalam cinta semu yang dapat menjauhkan aku dari-Mu. Kucoba menitipkan ia pada-Mu disaat penjagaanku tak sampai kepadanya.

Sebaris waktu aku mengenalnya, ia mengajariku banyak hal. Ia sering menasehatiku dikala aku lemah, memberikan masukan-masukan positif dalam langkahku, dan selalu mengingatkanku dalam kebaikan. Tak ada yang bisa aku lakukan selain mengadu pada Rabb-ku dalam barisan doa setiap kali rasa ini menyeruak. Aku paham jika Allah menghendaki, suatu saat nanti kami akan bertemu kembali di waktu yang tepat dan dalam keadaan yang siap.

Aku tak ingin ada janji dan komitmen sebelum waktunya. Aku tak ingin ada kata cinta dan rindu sebelum waktunya. Aku tak ingin ada yang memberatkan jika mungkin suatu saat nanti Engkau berkehendak lain, jika nanti mungkin ia menemukan perempuan yang lebih shalihah, atau jika perasaan ini hilang dengan sendirinya.

Aku pun mulai berkaca. Aku bukan bidadari surga nan jelita yang Engkau kirimkan untuk laki-laki saleh. Aku hanya wanita biasa yang selalu ingin memperbaiki diri, menebus segala kesalahan yang pernah tergores dalam kisah hidupku. Biarlah Allah yang menjaga aku dan dia. Aku yakin bahwa memanglah Allah sebaik-baiknya penjaga. Aku hanya mampu menahan semua rasa dalam diam. Semakin aku mengaguminya, semakin enggan aku ‘tuk mendekatinya. Aku ingin menyayanginya dengan cara menjaga kehormatannya.

Jika suatu saat nanti waktu akan memisahkan aku dan dia, tak ada yang perlu diakhiri, karena kita memang tak pernah memulainya. Satu hal yang harus ia tahu bahwa hanya dengan mengenalnya saja itu sudah cukup membuatku merasa bahagia. Ya, bahagia itu memang sederhana, sesederhana angin yang sayup-sayup yang akan membawa berita bahwa ia berada dalam lindungan-Mu, dan sesederhana senyum yang terukir tatkala melihat satu demi satu impiannya yang tercapai di masa yang akan datang.

Aku bertemu dengannya karena-Mu, dan biarlah jika nanti aku harus berpisah dengannya itu jua karena-Mu. Aku tahu bahwa terkadang cinta tak selalu datang pada waktu yang tepat, oleh karena itu jika Engkau berkehendak, siapapun ia yang tertulis dalam Lauh Mahfudz ku, dengan segala kekurangan dan kesederhanaanku, kunantikan ia di batas waktu.

***

Bolehkah menyatakan kerinduan? Perasaan kepada seseorang?
Tentu saja boleh. Tapi jika kita belum siap untuk mengikatkan diri dalam hubungan yang serius, ikatan yang bahkan oleh negara pun diakui dan dilindungi, maka sampaikanlah perasaan itu pada angin saat menerpa wajah, pada tetes air hujan saat menatap keluar jendela, pada butir nasi saat menatap piring, pada cicak di langit-langit kamar saat sendirian dan tak tahan lagi hingga boleh jadi menangis.

Dan jangan lupa, sampaikanlah perasaan itu pada yang maha menyayangi. Semoga semua kehormatan perasaan kita dibalas dengan sesuatu yang lebih baik. Semua kehati-hatian, menghindari hal-hal yang dibenci, akan membawa kita pada kesempatan terbaik. Semoga.

― Tere Liye

Selasa, 07 Mei 2013

Tuhan Tahu Betapa Aku Menginginkanmu

sebelumnya aku sulit jatuh cinta,
bagiku selalu harus ada alasan logis
untuk menambatkan hati
pada sosok yang tepat

tapi sosokmu entah mengapa
mampu mengetuk lembut pintu hatiku
membuatku menolehkan pandanganku padamu
sehingga aku menyadari
kau adalah salah satu maha karya Tuhan yang terindah

aku tahu kau hanya manusia biasa
aku tahu mungkin banyak ketidaksempurnaan yang ada pada dirimu
tapi segala kebaikan yang kau miliki,
segala kebaikan yang telah kau lakukan
seolah meruntuhkan segala ketidaksempurnaanmu di mataku

aku suka caramu memanggil namaku
aku suka caramu menyemangatiku
aku suka perhatianmu

aku suka sosokmu yang hangat dan dewasa
kau selalu punya telinga untuk mendengarkan
kau selalu mampu menenangkan ketidaktenanganku

aku suka caramu berargumen dan memberi pendapat
aku suka caramu menasehatiku
kau selalu mampu memberikan nasehat terbaik
tanpa membuatku merasa digurui

aku suka candaanmu
aku suka sosokmu yang dewasa
aku suka caramu tersenyum
aku suka caramu tertawa
aku suka matamu yang tiba-tiba menghilang saat kau tertawa

aku suka saat kita saling bercerita dan berbagi
berbagi pengalaman, saling menyemangati
bercerita tentang asa dan angan
bercerita tentang cita dan cinta
bercerita tentang kau dan aku

semakin lama aku mengenalmu
semakin aku sadari bahwa kau lah sosok lelaki yang aku cari
kau baik, pintar, sederhana, dan soleh..
Tuhan tahu betapa aku menginginkanmu..


sekian lama aku mengenalmu
entah mengapa benih-benih asmara mulai tumbuh
dan sayangnya mengapa harus di saat seperti ini


dear pria soleh nan baik hati,
akan ku simpan rasa ini di dalam hati
tak akan kubiarkan sedikitpun engkau mengetahuinya
meskipun begitu besar hasrat ini untuk memilikimu

dear pria soleh nan baik hati,
saat ini aku tak ingin terlalu berharap padamu
jika Allah menuliskan namamu di lauh mahfuzh untukku
aku hanya berharap semoga Allah selalu menjagamu
hingga saat itu tiba

jika kau memang ditakdirkan untukku
dimanapun kau berada, sejauh apapun kau melangkah,
aku yakin Allah akan menuntun jalanku padamu
hingga suatu saat nanti kau akan kembali padaku

dear pria soleh nan baik hati,
biarlah aku mengagumimu dalam diam,
dalam tatap yang kupalingkan
kala kita bertemu pandang..

dear pria soleh nan baik hati,
izinkan aku mengagumimu
dalam kata yang terbata kuucapkan,
dalam kesendirian yang terkadang menjemukan,
dalam rangkai aksara yang kusulam,
dalam syair-syair yang bergulir
dari lubuk hati terdalam



Banda Aceh, 7 Mei 2013
ditulis dengan perasaan yang teramat dalam.

Kamis, 18 April 2013

sebongkah cinta dari batas kota

Aku berterima kasih Allah mempertemukan aku dan teman2 dengan seorang wanita tangguh yang kami panggil 'Bunda'..

Selama beberapa bulan ini Bunda memberikan kami begitu banyak pelajaran yg tidak kami dapatkan dari bangku kuliah; tentang arti kepedulian terhadap mereka yg kurang dipedulikan, tentang kejujuran, kemandirian, komitmen, dan dedikasi yang tinggi.


Bunda mengajarkan kami bahwa seberat apapun masalah hidup kita, kita harus selalu bersyukur dan optimis bahwa akan selalu ada jalan keluarnya jika kita mau berusaha..

Bunda mengajarkan tentang arti kerja keras, tentang jangan berputus asa, tentang keikhlasan dan kejujuran dalam bekerja..

Dari Bunda kami paham makna sesungguhnya bahwa sesuatu yang datang dari hati akan sampai ke hati pula..

Dari bunda kami memahami cinta dalam bentuk yang lain; tentang cinta yang tulus, penuh pengorbanan, ikhlas, dan tanpa pamrih..


Bunda mengajarkan kami tentang arti cinta yang dibalut dengan kesabaran, ketulusan, dan perjuangan dan pengorbanan. Dari Bunda kini kami mengerti bahwa separah-parahnya manusia, ia memiliki potensi dan pasti bisa berubah ke arah yang lebih baik..

Bunda berhasil mengubah Sayed yang awalnya begitu liar; berasal dari tambang batu bara, tidak bisa berbicara, kotor, kumal, tidak pernah mengenakan alas kaki (sehingga kakinya terluka dan daging dari telapak kakinya tampak mengerikan), tidak tahu agama, suka merusak, hingga menjadi Sayed yang sekarang: penurut, suka menolong, bisa berbicara, bersih, dan selalu mengingatkan anak2 lain untuk shalat..


Bunda berhasil mengubah Juanda yang awalnya minder, dikira bisu oleh keluarganya sendiri, menjadi Juanda yang percaya diri, Juanda yang membuat Ibunya menangis haru karna seumur hidup baru pertama kali mendengar anaknya mengeluarkan suara dan berbicara.

Bunda berhasil mengubah Nanda, anak down syndrome yang sangat cantik yang awalnya sangat pendiam, bicaranya masih sangat kurang, suka mengurung diri, hingga menjadi Nanda yang periang, suka bernyanyi, suka bershalawat, bisa membuat kue, dan kini pun kosa katanya sudah mulai bertambah.

Bunda berhasil mengubah Altaf, anak autis/ADHD yang sangat hiperaktif dan agresif, yang berasal dari keluarga broken home, dianggap tak berguna (bahkan -maaf- diibaratkan dengan Anjing oleh keluarganya). kini Altaf sudah penurut, sudah mengerti instruksi, dan secara perlahan hiperaktif dan agresif nya sudah mulai berkurang..

Itu hanya 4 anak yang aku ceritakan. masih banyak anak-anak lain yang ada di YPAB yang sudah menunjukkan perubahan ke arah lebih baik dengan bantuan Bunda.

Bunda mengajarkan kami untuk mendidik anak-anak berkebutuhan khusus tidak perlu standar kurikulum, yang penting anak-anak bisa berubah perilaku nya sedikit saja, misalnya sudah bisa membersihkan dirinya, sudah mau duduk tenang, adalah sebuah pencapaian yang luar biasa.

Dari Bunda aku belajar bahwa cinta yang tulus mampu mengubah sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin; bahwa seburuk apapun manusia, sehina apapun ia, ia pasti memiliki potensi untuk berubah ke arah yang lebih baik.

Bekerja sebagai volunteer bersama Bunda di bidang pendidikan untuk Anak Berkebutuhan Khusus mengajarkanku banyak hal: bahwa segala sesuatu yang datang dari hati akan sampai ke hati pula. Bekerja di bidang ini memberikan aku banyak pengalaman dan pelajaran berharga, membuatku banyak berempati dan bersyukur, serta memahami konsep habluminannas (hubungan manusia dengan sesamanya) menjadi lebih luas..

Terima kasih, Bunda... Terima kasih banyak.


Orang bijak mengatakan bahwa pengalaman adalah guru terbaik. Pengalaman mengajarkanku banyak hal, dan aku merasa sangat beruntung Allah menakdirkanku untuk bertemu dengan Bunda dan adik2 di YPAB. Sungguh, pengalaman ini tidak akan pernah aku lupakan..

Aku akan selalu merindukan saat2 menghabiskan waktu di bangunan itu, di tepian batas kota, menyusuri jalan kecil dengan hamparan sawah yang membentang luas di seberang kiri dan kanan jalan, serta senyuman adik2 yang selalu merindukan kedatangan kami.. :)